EFEKTIVITAS HERBISIDA BERBAHAN AKTIF 2,4 - D DIMETIL AMINA DAN IPA GLIFOSAT TERHADAP GULMA TANAMAN KAKAO MENGHASILKAN DI PTPN XII KEBUN KENDENGLEMBU, BANYUWANGI

DHEANANDA FYORA HERMANSYAH AZARI (2021) EFEKTIVITAS HERBISIDA BERBAHAN AKTIF 2,4 - D DIMETIL AMINA DAN IPA GLIFOSAT TERHADAP GULMA TANAMAN KAKAO MENGHASILKAN DI PTPN XII KEBUN KENDENGLEMBU, BANYUWANGI. S1 thesis, Universitas Trunojoyo Madura.
[thumbnail of TRUNOJOYO-KP-20806-180311100133-DHEANANDA FYORA H.A_180311100133_LAPORAN PKL.pdf] PDF
TRUNOJOYO-KP-20806-180311100133-DHEANANDA FYORA H.A_180311100133_LAPORAN PKL.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (3MB)

Abstract

Tanaman kakao (Thebroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas unggulan sebagai bahan pembuatan makanan terbuat dari coklat. Di Indonesia kakao merupakan salah satu negara dengan penghasil kakao terbesar di dunia. Hal tersebut karena wilayah Indonesia mempunyai iklim yang sesuai dengan syarat tumbuh kakao. Pohon kakao mampu tumbuh secara ideal pada iklim tropis dengan kesesuain kondisi lahan dan faktor biotik ataupun abiotik untuk mendukung budidaya tanaman kakao (Mulyono, 2017). Produksi jumlah kakao di Indonesia terbilang besar karena banyaknya jumlah perkebunan kakao yang ada di Indonesia. Hal tersebut menjadi keuntungan karena negara bisa mengekspor biji kakao ke luar negri dan berdampak positif untuk menambah devisa negara. Pertumbuhan industri kakao di Indonesia membantu penyerapan tenaga kerja sehingga mengurangi jumlah pengangguran (PTPN XII, 2013). Peningkatan mutu dan produktifitas kakao untuk memenuhi bahan baku yang berkualitas. Kualitas dari buah kakao harus diperhatikan agar sesuai dengan standart ekspor yang ditetapkan. Kegiatan budidaya kakao mulai dari pembibitan hingga menjadi tanaman menghaslkan panen hingga pasca panen sebagi kunci untuk menghasilkan kakao dengan produksi dan kualitas yang tinggi. Pemeliharaan tanaman kakao mampu meningkatkan produktivitas pohon kakao. Pemeliharaan dapat dilakukan dengan kegiatan pemangkasan, pemupukan, pengolahan tanah, pengairan, pemberian pohon naungan dan kegian proteksi meliputi pengendalian hama, penyakit dan gulma. Hama, penyakit dan gulma merupakan penyebab terbesar terjadinya penurunan produksi tanaman kakao (Kenese, 2011 ). Kegiatan budidaya tanaman dengan berbagai jenis baik tanaman pangan atau tanaman perkebunan selalu terdapat keberadaan gulma. Gulma merupakan tumbuh- tumbuhan yang tumbuh secara liar di lahan budidaya. Keberadaan gulma sangat mengganggu karena keberadaanya tidak diharapkan. Gulma mempu merugikan kegiatan budidaya di lahan pertanian dan perkebunan. Tumbuhan disebut gulma dilihat dari tempat tumbuhnya gulma, karena dengan jumlah yang banyak mampu menyebabkan menurunnya hasil produksi tanaman yang dibudidayakan.
Pertumbuhan gulma pada perkebunan kakao merupakan masalah yang perlu diperhatikan. Hal tersebut karena jumlah gulma yang tumbuh pada perkebunan kakao menyebabkan gangguan pada hasil produktivitas. Gulma yang tumbuh pada areal perkebunan kakao bisa menyebabkan terjadinya persaingan dalam penyerapan unsur hara, nutrisi, air dan sinar matahari. Sehingga menghambat pertumbuhan tanaman dan tempat untuk sumber hama atau penyakit. Keberadaan gulma juga bisa menghasilkan senyawa alellopati yang bersifat toksik terhadap tanaman kakao. Keberadaan gulma yang biasanya terdiri dari rumput (Graminae), teki (Cyperaceae) atau herba lunak (Asteraceae) dan paku – pakuan (Pteridophyta) mempunyai sebaran akar sama seperti kakao, sehingga keberadaan gulma merepresentasikan ancaman berkurangnya ketersediaan sumberdaya alam untuk kehidupan kakao. Kerugian yang ditimbulkan gulma terlihat pada penurunan hasil tanaman budidaya (Istikana, 2019). Luasnya pertumbuhan gulma menyebabkan kesulitan dalam kegiatan kultur teknis seperti pemupukan, wiwil kasar (WK), dan menunas. Oleh karena itu perlu adanya pengendalian gulma untuk menekan kerugian yang disebabkan oleh gulma untuk meningkatkan hasil produktivitas tanaman kakao dan lingkungan perkebunan. Pengendalian tersebut bisa dilakukan secara manual menggunakan peralatan seperti sabit dan cangkul, sedangkan pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan menyemprotkan herbisida. Penggunaan herbisida mampu membantu untuk menekan jumlah populasi gulma dan mengendalikan dalam waktu relatif singkat yang ada pada perkebunan. Pemilihian herbisida yang tepat dapat menentukan keberhasilan dalam mengendalikan gulma. Salah satu bahan aktif herbisida yaitu 2,4 – D Dimetil Amina dan IPA Glifosat. Oleh karena perlu mengetahui efektivitas herbisida terhadap golongan gulma, herbisida dinilai efektif jika memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan gulma. Sehingga bahan aktif yang terkandung pada herbisida bisa mengendalikan gulma dengan tepat sasaran perlu dilakukan dan dipelajari.

Item Type Thesis (Skripsi)
Thesis Type S1
Creators
Creators
NIM
DHEANANDA FYORA HERMANSYAH AZARI
Department Agroekoteknologi
Uncontrolled Keywords HERBISIDA; DIMETIL AMINA; GULMA; KAKAO
Divisions Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi
Additional Information elib mass import
Depositing User Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id
Date Deposited 18 Oct 2026 00:17
Last Modified 24 Oct 2026 17:19
URI https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/29453

Actions (login required)

View Item
View Item