TRUNOJOYO-KP-20802-180311100139-NURIATUS SHOLIKHAH_180311100139_LAPORAN PKL.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (4MB)
Abstract
Pertanian merupakan sektor paling penting yang menjadi fondasi pembangunan negara dan perekonomian nasional. Salah satu bentuk upaya pembangunan negara dan perekonomian nasional yaitu melalui pertanian komoditas hortikultura, yang didukung dengan karakteristik lahan, agroklimat, dan sebaran wilayah yang luas di Indonesia yang tentu saja sangat potensial untuk dilakukan pengembangan lebih lanjut. Upaya peningkatan produksi buncis sebagai salah satu komoditas hortikultura di Indonesia perlu dilakukan secara intensif agar dapat memenuhi kebutuhan gizi dan konsumsi bagi masyarakat. Menurut Fajriah et al (2018) dalam Devani et al (2019) bahwa peningkatan produksi dapat diwujudkan melalui teknik budidaya yang tepat, pengaturan populasi tanaman dan pemilihan varietas yang sesuai dengan lingkungan agar hasil yang diperoleh lebih optimal.
Produksi buncis di Indonesia mengalami penurunan antara lain pada tahun 2018 produksi sebesar 304.477 ton dan pada tahun 2019 sebesar 299.310 ton (BPS, 2018). Terjadinya penurunan produksi disebabkan karena banyaknya kendala yang dihadapi selama peoses produksi. Faktor-faktor yang menyebabkan penurunan hasil produksi tanaman buncis antara lain karena perubahan iklim, benih tidak bermutu, serangan hama dan penyakit, pemeliharaan yang tidak sesuai serta teknik budidaya yang masih belum benar-benar difahami dengan baik oleh petani.
Buncis (Phaseolus vulgaris L.) sebagai tanaman yang tergolong dalam jenis tanaman sayuran semusim dapat dipanen berkali-kali. Tanaman buncis dapat tumbuh di dataran tinggi hingga dataran rendah. Waluyo dan Djuariah (2013) dalam Pratiwi (2018) menyatakan tiap 100 gram buncis mengandung protein 2,4 g, lemak 0,4 g, karbohidrat 7,7 g sebagai sumber kalori serta kandungan kalsium 6,5 g, fosfor 4,4 g, besi 1,1 g, vitamin A 630 mg, vitamin B1 0,08 mg, vitamin B2 0,01 mg, vitamin B3 0,7 mg, vitamin C 19,0 mg, kalori 35 kal dan kandungan air 89 gram yang sangat berpengaruh besar terhadap kualitas kesehatan masyarakat.
Budidaya tanaman buncis tentunya harus menggunakan benih yang bermutu dan bervarietas unggul supaya mendapatkan hasil yang maksimal. Selain itu benih yang digunakan harus baik dan benar. Benih yang baik ialah benih yang memiliki mutu fisik maupun fisologis yang tinggi, artinya, benih tersebut secra fisik bersih, tidak cacat, ukuranya seragam, warna seragam dan secara fisiologis memiliki viabilitas (daya tumbuh) dan vigor yang tinggi. Benih dikatakan benar apabila benih tersebut memiliki mutu genetik yang tinggi, artinya benih tersebut harus murni dan jelas identitasnya sesuai dengan deskripsi varietas tersebut (Sudjindro, 2009).
PT. Wira Agro Nusantara Sejahtera atau biasa disingkat WIRANUSA merupakan salah satu perusahaan yang bekerja di bidang perbenihan tanaman dan telah menghasilkan bermacam-macam varietas unggul tanaman hortikultura salah satunya yaitu tanaman buncis varietas H10, H93 dan H54. Lokasi PT. Wira Agro Nusantara Sejahtera terletak di wilayah yang cocok dengan syarat tumbuh tanaman buncis serta tempat yang strategis dengan fasilitas lenngkap dan peralatan yang mendukung teknik budidaya tanaman buncis sehingga menghasilkan varietas benih buncis yang unggul. Berdasarkan uraian diatas sebelumnya maka penulis bertujuan untuk mempelajari kegiatan budidaya tanaman buncis di perusahaan perbenihan PT. Wira Agro Nusantara Sejahtera.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM NURIATUS SHOLIKHAH |
| Department | Agroekoteknologi |
| Uncontrolled Keywords | BUDIDAYA; TANAMAN BUNCIS |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 18 Oct 2026 00:17 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:19 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/29445 |
