TRUNOJOYO-KP-20793-180311100151-Elyana Karisma_180311100151_PKL.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (3MB)
Abstract
Indonesia merupakan negara yang terletak di daerah tropis dilewati oleh garis katulistiwa dimana merupakan wilayah dengan tumbuhan yang beranekaragam. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil tanaman hortikultura yang berlimpah. Produk hortikultura terdiri dari sayur-sayuran dan buah-buahan salah satu produk tersebut adalah buah alpukat.
Alpukat merupakan tanaman yang banyak ditemukan di Indonesia meskipun asal tanaman tersebut tidak berasal dari Indonesia (Rauf, 2017). Tanaman alpukat (Persea americana Mill.) berasal dari Amerika Tengah dan masuk ke Indonesia pada abad ke-18 (Tim Penulis PS, 1992 dalam Hayati, 2018). Alpukat di Indonesia memiliki prospek yang cukup besar dimana Indonesia menjadi negara penghasil alpukat terbesar nomor lima di dunia setelah Mexico (188.935,4 ton), Republik Dominica (601.349 ton), Peru (455.394 ton), dan Colombia (309.431 ton), serta Indonesia (304.938 ton) (FAOSTAT, 2017 dalam Mariyati, 2020).
Produksi buah alpukat dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Berdasarkan Badan Pusat Statistik Indonesia (2019) produksi buah alpukat dari tahun 2016 sampai tahun 2019 terus mengalami peningkatan hal tersebut juga bersamaan dengan peningkatan kebutuhan pasar. Produksi buah alpukat tahun 2016 sebesar 304.938 ton, tahun 2017 sebesar 363.148 ton, tahun 2018 sebesar 410.094, dan tahun 2019 sebesar 461.613 ton. Selain produksi yang terus meningkat konsumsi alpukat juga semakin meningkat, tidak hanya dikonsumsi secara langsung namun buah alpukat saat ini menjadi primadona untuk dijadikan produk kecantikan (Saputra, 2018).
Alpukat tidak hanya menjadi produk yang diperjualbelikan di dalam negeri namun juga merupakan salah satu produk ekspor (Tamalia, 2017). Buah alpukat merupakan komoditas buah yang penting dalam perdagangan dunia, karena volume perdagangan buah alpukat menempati urutan kelima susudah jeruk, pisang, nenas, dan mangga. Tanaman alpukat memiliki penyebutan yang berbeda-beda tiap daerah, di antranya nama alpuket (Jawa Barat), alpokat (Jawa Timur/Jawa Tengah), boah pokat, jamboo pokat (Batak), advokat, jamboo mentega, jamboo pooan, pookat (Lampung) dan lain-lain (Afni, 2017).
Usaha untuk menghasilkan kualitas buah alpukat yang baik sangat dipengaruhi oleh kualitas bibit tanaman, karena bibit yang berkualitas baik akan meningkatkan produksi tanaman. Bibit tanaman alpukat dapat diperoleh secara generatif maupun vegetatif. Bibit tanaman yang diperoleh melalui perbanyakan generatif didapatkan dengan langsung melalui biji yang ditanam. Hasil bibit dengan menggunakan biji memiliki keunggulan pada perakaran yang kuat dan dapat diproduksi secara masal, akan tetapi tanaman akan berbuah lama serta buah tidak seperti induknya. Sedangkan bibit tanaman yang diperoleh secara vegetatif dapat melalui sambung pucuk (grafting), okulasi, dan cangkok. Menurut Hayati (2018) dari sekian banyak teknik perbanyakan, teknik sambung pucuk merupakan teknik yang paling baik bagi alpukat. Dimana bibit tanaman alpukat dapat disesuaikan, batang bawah memiliki perakaran yang kuat dan batang atas merupakan kultivar yang dikehendaki. Sambung pucuk (grafting) juga tidak mengganggu pertumbuahan tanaman induk seperti cangkok. Selain mengganggu pertumbuhan tanaman induk cangkok memiliki sistem perakaran yang serabut menjadikan tanaman mudah roboh. Dibandingkan dengan okulasi, menurut Rukmana (1999) dalam Hayati (2018) teknik sambung pucuk alpukat memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi. Sambung pucuk (grafting) adalah teknik menggabungkan batang bawah (rootstock) dengan batang bagian atas (entres) yang disebabkan penyatuan dari kambium batang bawah (rootstock) dan batang atas (entres), agar nantinya tercipta tanaman baru dengan perpaduan antara sifat batang bagian bawah dengan sifat batang bagian atas (Ariani,2017). Keberhasilan sambungan ditentukan ketika fungsi floem dan xylem terhubung dengan baik (kompatibel) antara kedua sambungan batang bawah (rootstock) dan batang atas (entres). Keberhasilan penyambungan dapat terwujud jika diikuti dan diterapkan dengan baik mulai dari penyiapan batang bawah, pemeliharaan hasil sambungan bibit, hingga persiapan dan pemilihan bahan batang atas (entres), serta pelaksanaan penyambungan dengan baik dan benar sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) maka memungkinkan dapat menyediakan bibit alpukat yang berkualitas (Santoso, 2013).
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM ELYANA KARISMA |
| Department | Agroekoteknologi |
| Uncontrolled Keywords | TEKNIK SAMBUNG PUCUK; GRAFTING; ALPUKAT PAMELING |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 18 Oct 2026 00:12 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:19 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/29426 |
