TRUNOJOYO-KP-20786-180351100075-PKL_JIHAN MAYANG SARI_180351100075.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (1MB)
Abstract
Udang merupakan salah satu komoditi perikanan yang banyak diminati
oleh masyarakat dan bernilai ekonomis tinggi. Berdasarkan data Kementrian
Kelautan dan Perikanan (2016), produksi budidaya udang di Indonesia mencapai
629.729 ton, pada tahun 2017 produksi udang meningkat menjadi 885.831 ton dan
tahun 2018 produksi udang semakin meningkat menjadi 886.520 ton. Produksi
yang tertinggi pada budidaya udang diperoleh dari budidaya udang vannamei.
Peningkatan hasil produksi udang vannamei ini mendorong adanya
kegiatan ekspor hasil budidaya udang vannamei. Ashari et al. (2016) menyatakan
bahwa negara tujuan ekspor udang Indonesia tertinggi adalah Malaysia sebesar
US$2.826,55 ribu. Ekspor udang Indonesia ke Malaysia mencapai 33,84% disusul
oleh Singapura sebesar 15%. Peningkatan ekspor udang ini membuat
pembudidaya bersaing untuk melakukan kegiatan ekspor dan pembudidaya
menerapkan sistem budidaya intensif.
Kegiatan ekspor yang akan dilakukan perlu adanya SOP yang dipenuhi
dan ditaati antara lain pengujian mutu dan keamanan pangan dari produk yang
akan diekspor (Dirjen PDSPKP KKP, 2015). Berdasarkan Peraturan Menteri
Kelautan dan Perikanan nomor 19 tahun 2010 tentang Pengendalian Jaminan
Mutu Dan Keamanan Hasil Perikanan menyatakan bahwa diperlukan upaya
pencegahan yang perlu diperhatikan serta dilakukan sejak pra produksi sampai
pendistribusian untuk menghasilkan perikanan yang bermutu dan aman bagi
kesehatan. Pengendalian mutu khususnya pengujian kloramfenikol batasan
maksimum residu telah diatur oleh beberapa negara ekspor seperti Uni Eropa
(EU) menetapkan batas maksimum residu kloramfenikol pada udang sebesar 0,3
ppb (European Commision, 2003).
Penolakan ekspor udang vannamei Indonesia yang masuk ke Jepang
terjadi penolakan pada tahun 2012, hal ini disebabkan udang vannamei yang akan
diekspor mengandung antibiotik kloramfenikol. Pemerintah Jepang sangat ketat
dan selektif dalam menerima produk impor ikan. Pemberian antibiotik pada
budidaya udang di Indonesia dicampur dengan pakan udang, hal tersebut dilakukan supaya udang tidak rentan terhadap penyakit sehingga tingkat
kematiannya kecil (Sugiyanto, 2017).
Penggunaan antibiotik pada budidaya perikanan digunakan sebagai terapi
untuk ikan yang terinfeksi penyakit akibat terpapar bakteri tertentu. Alghifari et
al. (2017) berpendapat bahwa beberapa antibiotik yang dapat digunakan antara
lain kloramfenikol, oksitetrasiklin, penisilin, doksisiklin, eritromisin, streptomisin,
enrofloksasin, dan norfloksasin. Penggunaan antibiotik bagi ikan hanya
direkomendasikan untuk pengobatan induk ikan saja, dan tidak dianjurkan bagi
ikan-ikan untuk konsumsi serta perlu penanganan dengan pemberian dosis yang
tepat (Wibowo et al., 2010).
Penggunaan antibiotik yang sering digunakan dalam budidaya yaitu
kloramfenikol (Wibowo et al., 2010). Kloramfenikol adalah salah satu dari
sembilan jenis bahan tambahan makanan yang dilarang di Indonesia (Permenkes
No. 722/Menkes/Per/IX/88). Penggunaan kloramfenikol pada kegiatanbudidaya
karena harganya yang relatif murah, ketersediaannya banyak, dianggap memiliki
kinerja yang baik dalam menghambat perkembangan penyakit yang menyerang
udang serta mampu meningkatkan daya tahan dan menambah berat dari ikan
tersebut.
Dampak yang disebabkan oleh kloramfenikol dapat berupa gangguan
lambung, usus, neuropati optis dan perifer. Kerugian lain akibat residu
kloramfenikol ini adalah udang yang mengandung kloramfenikol tidak dapat
diekspor karena beberapa negara telah menetapkan zero tolerance terhadap udang
yang mengandung kloramfenikol (Alghifari et al., 2017). Kasus yang terjadi pada
tahun 2006 dan 2007 berkaitan dengan kegiatan ekspor udang ke Jepang dan
China yang ditolak karena dicurigai mengandung residu kloramfenikol (Putro,
2008). Kasus tersebut menyebabkan ekspor udang ke luar negeri mengalami
penurunan.
Batas Maksimum Residu (BMR) yang ditetapkan oleh SNI sesuai dengan
SNI 01-6366-2000 kandungan kloramfenikol sebesar 0,01 ppm. Beberapa Negara
seperti Uni Eropa (EU) menetapkan batas maksimum residu kloramfenikol pada
udang sebesar 0,3 ppb (European Commision, 2003). Batas Maksimum Residu
(BMR) yang ditetapkan oleh SNI jauh lebih tinggidibandingkan denganBMR yang ditetapkan negara lain, seperti Rusia (0,5 unit/g), Uni Eropa (EU) (0,3
μg/kkg) dan China (0,5 μg/kg) (Wibowo et al., 2010).
Perbedaan penggunaan metode dalam pengujian kandungan residu
kloramfenikol dapat menghasilkan nilai kandungan residu kloramfenikol yang
berbeda. Pengujian residu kloramfenikol dapat dilakukan dengan beberapa metode
antara lain metode ELISA (Enzym Link Immunosorbent Assay) dan metode HPLC
(High Performance Liquid Chromatography). Setiap metode pengujian
kloramfenikol memiliki kelemahan. Kelemahan penggunaan metode HPLC
adalah membutuhkan waktu yang lama, terutama pada saat proses pengaliran
larutan ABCD pada alat HPLC. Selain itu, hasil pengujian yang diperoleh juga
kurang akurat, pengoperasian alat cukup menyulitkan, dan harus membutuhkan
teknisi khusus. Adapun kelebihan dari metode HPLC adalah hasil pengujian dapat
cepat diketahui secara langsung, alat HPLC memiliki tingkat resolusi yang tinggi,
pemisahan kolom sampel dapat dilakukan secara cepat dan digunakan kembali
(Damayantiet et al., 2003). Kelemahan dari metode ELISA yaitu tidak dapat
mendeteksi larutan apabila warna yang dihasilkan oleh sampel tidak berwarna
atau bening. Kelebihan antara lain memiliki kepekaan deteksi tinggi, prosedurnya
relatif sederhana dan cepat serta dapat digunakan untuk menguji sampel dalam
jumlah besar sekaligus (Suryadi et al.,2009). Metode ELISA ini lebih efektif
untuk pengujian kloramfenikol.
Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan
Surabaya II merupakan salah satu unit pelaksana teknis (UPT) dari pusat karantina
ikan yang memiliki tugas pokok yaitu melaksanakan pencegahan masuk dan
tersebarnya Hama dan Penyakit Ikan Karantina (HPIK) ke/di/keluar wilayah
Negara Republik Indonesia, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan
serta penerapan sistem manajemen mutu. Pengujian mengenai mutu ikan di
BKIPM Surabaya II terdapat pengujian kimia, bakteri dan virus. Salah satu
pengujian kimia yang menggunakan metode ELISA ialah pengujian kandungan
kloramfenikol. Berdasarkan hal tersebut, Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu
dan Keamanan Hasil Perikanan Surabaya II layak dan tepat untuk melakukan
praktik kerja lapang untuk mengetahui dan memahami metode pengujian
kloramfenikol pada udang vannamei beku.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM JIHAN MAYANG SARI |
| Department | Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Uncontrolled Keywords | KLORAMFENIKOL; UDANG VANNAMEI; BALAI KARANTINA IKAN |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 18 Oct 2026 00:10 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:19 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/29413 |
