TRUNOJOYO-KP-20785-180311100087-PKL_Abdul Azis_180311100087.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (1MB)
Abstract
Perguruan tinggi memilki tugas yang sangat esensial yaitu menyampaikan dan mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan sesuai disiplin studinya. Salah satu metode pendekatan yang dilakukan oleh perguruan tinggi adalah pembelajaran berbasis kompetensi, yang diharapkan dapat memberikan bekal bagi mahasiswa setelah selesai menjalankan studinya memiliki kompetensi yang mumpuni berdasarkan fokus studi yang ditempuhnya. Bidang pertanian adalah salah satu bidang yang sangat esensial bagi sebuah negara, oleh sebab itu perguruan tinggi dituntut untuk dapat menghasilkan lulusan yang berkompeten dalam bidang pertanian. Sebagai upaya untuk mewujudkan utntutan tersebut, maka dibuatlah suatu pendekatan pembelajaran yang berbasis kompetensi yaitu dengan kegiatan Praktik Kerja Lapang (PKL). PKL diharapkan dapat memberikan bekal baik berupa hard skill maupun soft skill bagi mahasiswa.
PKL adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa pada suatu lembaga atau perusahaan negeri maupun swasta dalam range waktu tertentu sesuai kebijakan fakultas. Adapun tujuan dari dilaksanakan PKL adlah untuk mengomparasikan antara ilmu yang didapatkan selama proses pembelajaran dikelas dengan realitas yang ada di dunia nyata atau lapang, dan untuk melatih mahasiswa agar dapat bersikap fleksibel, adaptif serta mandiri untuk menunjang karirnya setelah lulus dari perguruan tinggi. PKL ini dilaksanakan di Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Arboretum Farm Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur. P4S Arboretum Farm memiliki berbagai kegiatan agronomi komoditas sayur, tanaman hias, buah, kentang, pembibitan sayur, pengolahan pasca panen, dan perbenihan kentang G0.
Kentang (Solanum tuberosum) merupakan suatu komoditas yang relatif banyak dibudidayakan oleh petani khususnya di dataran tinggi dengan ketinggian antara 800-1800 mdpl (FAO 2008). Terdapat berbagai jenis kentang yang ditanam oleh petani dengan berbagai varietasnya. Pada umumnya dikenal kentang varietas Granola, Blue Sweeden. Manik et al., (2012) menyebutkan terdapat varietas Cipanas, varietas Ping, varietas Merbabu, varietas Margahayu, varietas GM 05 dan varietas GM 08. Dari berbagai varietas yang ada pada umumnya kentang memiliki karakteristik morfologi yang berbeda mulai dari warna umbi yang pada umumnya dikenal kentang kuning, putih dan merah, jumlah umbi, besar umbi, warna batang dan sebagainya. Masyarakat petani cenderung memilih varietas kentang berdasarkan beberapa pertimbangan meliputi harga pasar, umur panen, ketahanan penyakit, besar umbi, dan banyaknya umbi.
Kentang banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai konsumsi seperti sayur maupun berbagai olahan lainnya. Konsomsi kentang cenderung meningkat setiap tahunnya. BPS (2013) melaporkan bahwa konsumsi kentang meningkat 1,76% setiap tahunnya pada periode 2002-2012. Peningkatan permintaan pasar, tentunya harus diimbangi dengan ketersediaan komoditas di pasar.
Produksi kentang di Indonesia setiap tahunnya masih mengalami fluktuasi, jumlah produksi kentang pada tahun 2016 adalah 1,21 juta ton dengan rata-rata produktivitas mencapai 18,25 ton/ha, sedangkan pada tahun 2017 adalah 1,16 juta ton dengan ratarata produktivitas mencapai 15,4 ton/ha, dan pada tahun 2018 mengalami peningkatan produksi menjadi sebesar 1,18 juta ton (Badan Pusat Statistik, 2018). Fluktuasi pada produksi kentang masih terjadi, sehingga hal tersebut dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan pasar. Penyebab penurnan produksi kentang di Indonesia sangatlah kompleks. Salah satu penyebab penurunan produksi kentang adalah tidak tersedianya benih kentang yang unggul dan bersertifikat. Penurunan produksi kentang dapat diakibatkan karena ketersediaan benih yang berkualitas baik belum bisa memenuhi kebutuhan para petani, sehingga petani lebih cenderung menggunakan benih dari hasil budidaya untuk ditanam kembali (Sayaka et al., 2011)..
Melihat realitas tersebut, maka diperlukan berbagai upaya untuk menyediakan benih kentang yang unggul dan bersertifikat untuk menunjang kebutuhan benih dikalangan petani kentang. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menangkarkan benih dasar kentang atau dapat disebut dengan benih G0 kentang diberbagai sentra daerah penghasil kentang, dimana benih dasar (G0) dihasilkan dari umbi benih penjenis (planlet). Upaya tersebut diharapkan dapat menjawab kebutuhan benih berkualitas dikalangan petani.
Dalam produksi benih dasar kentang (G0) yang berkualitas tentunya memerlukan pemeliharaan yang baik dan sesuai standar. Hal tersebut harus dilakukan untuk menjamin kualitas dari benih yang dihasilkan. Berdasarkan hal tersebut, maka menjadi penting untuk mengetahui teknik pemeliharaan benih penjenis (planlet) kentang untuk menghasilkan benih dasar (G0).
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM ABDUL AZIS |
| Department | Agroekoteknologi |
| Uncontrolled Keywords | TEKNIK PEMELIHARAAN; BAHAN TANAM; KENTANG; PUSAT PELATIHAN PERTANIAN PERDESAAN |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 18 Oct 2026 00:10 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:19 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/29411 |
