TRUNOJOYO-KP-20745-170351100024-PKL_70351100014.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (2MB)
Abstract
Hutan mangrove merupakan ekosistem yang khas pada wilayah pesisir dan
mempengaruhi pasang surut air laut. Hutan mangrove mempunyai fungsi sangat
strategis secara ekologi, sosial, dan juga ekonominya. Mangrove memiliki banyak
fungsi dan juga manfaat yang langsung secara nyata dirasakan oleh masyarakat
dan juga menjadi sumber kehidupan ekonomi seperti kayu dan pohon, ikan,
kepiting, dan lain sebagainya, ada pula manfaat sebagai penahan abrasi dan
tempat ikan bertelur sampai memijah. Seiring dengan meningkatnya aktivitas
masyarakat di wilayah pesisir dan kebutuhan yang diinginkan tinggi sehingga
menyebabkan hutan mangrove mengalami tekanan yang dapat mengancam
keberadaan dan juga fungsinya. Kondisi ini dapat merugikan manusia dan juga
alam dikarenakan berkurangnya fungsi pada ekologis maupun ekonomi dan
lainnya (D. Bengen, 2001).
Indonesia memiliki ekosistem mangrove yang luas, data luas hutan
mangrove di Indonesia sangat bervariasi. Jumlah yang tercatat mencapai 158 jenis
terdiri dari 89 jenis pohon, 5 jenis palem, 19 jenis Liana, 44 jenis epifit dan 1 jenis
sikas (D. G. Bengen, Eidman, & Boer, 2001). Desa Penunggul Kecamatan
Nguling sebelumnya merupakan area pertambakan hasil konservasi kawasan
mangrove dan jarang ditumbuhi tanaman, bahkan terjadi abrasi setiap tahunnya
dan hampir mendekati pemukiman, tetapi sekarang Kecamatan Nguling memiliki
hutan mangrove yang rimbun terutama pada Desa Penunggul.
Konservasi hutan mangrove di Kecamatan Nguling sangat penting dan
berpengaruh bagi masyarakat sekitar hutan mangrove, terutama pada nelayan
yang melakukan penangkapan ikan di sekitar ekosistem hutan mangrove.
Pengaruh ini berpengaruh pada pembibitan mangrove, pentingnya pembibitan
pada mangrove merupakan teknik kultur dalam upaya mengelola benih atau bibit
sehingga dapat tumbuh dan dapat ditanam di lapangan terbuka. Pembibitan
memiliki tiga aspek dalam kegiatan pembibitan agar mendapatkan bibit yang
berkualitas yaitu memilih benih unggul, penanaman dan kegiatan perawatan bibit,
dan seleksi bibit. Kegiatan memilih benih mangrove unggul merupakan upaya strategis dalam mempersiapkan tanaman mangrove jangka panjang (Wardhani,
2011).
Kecamatan Nguling merupakan wilayah yang mengalami peningkatan
luasan hutan mangrove di Kabupaten Pasuruan dari 3,5 Ha di tahun 1985
meningkat menjadi 84,6 Ha di tahun 2005 (D. Bengen, 2001). Dari data tersebut
sebagian besar hutan mangrove berada di Desa Penunggul. Wilayah pesisir Desa
Penunggul Kecamatan Nguling sebelumnya merupakan area pertambakan hasil
konversi kawasan mangrove dan jarang sekali ditumbuhi tanaman, bahkan terjadi
abrasi yang tiap tahun semakin mendekati pemukiman. Namun, pesisir
Kecamatan Nguling sekarang dipenuhi rimbunnya hutan mangrove terutama di
Desa Penunggul.
Keberhasilan konservasi hutan mangrove di Kecamatan Nguling telah
membawa manfaat yang cukup berarti bagi masyarakat sekitar hutan, yaitu
meningkatnya jumlah produksi dan nelayan yang melakukan penangkapan ikan di
sekitar ekosistem hutan mangrove dan terlindungnya wilayah pantai dari bahaya
banjir dan angin badai, selain itu masyarakat juga melakukan penjualan pada
mangrove ini sehingga dapat menjadikan suatu mata pencaharian bagi desa
Penunggul ini. Penanaman dan pelestarian hutan mangrove dilatar belakangi
adanya kepedulian masyarakat dengan tokohnya Pak Mukarim.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM Ardiansyah Wahyuda Ramdhani |
| Department | Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Uncontrolled Keywords | PEMBIBITAN; MANGROVE |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 17 Oct 2026 23:57 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:19 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/29328 |
