TRUNOJOYO-KP-19820-170311100067-Moh Roid Sulaiman_Laporan Akhir PKL (1).pdf
Restricted to Repository staff only
Download (1MB)
Abstract
Tanaman tomat (Solanum lycopersicum.) merupakan tanaman hortikultura yang buahnya banyak digemari dan dikembangkan di Indonesia. Selain sebagai sayuran, buah tomat juga digunakan sebagai bahan baku obat-obatan, kosmetik, serta bahan baku pengolahan makanan seperti saus, sari buah. Oleh sebab itu buah tomat merupakan salah satu sayuran yang multiguna sehingga memiliki nilai ekonomi yang tinggi (Wijayanti dan Susila, 2013).
Produksi tomat Indonesia mengalami penurunan sebesar 4,07 % dari 915.987 ton per tahun 2014 menjadi 878.741 ton per tahun 2015. Luas panen tomat juga mengalami penurunan sebesar 7,57 % dari 59.008 ha tahun 2014 menjadi 54.544 ha tahun 2015 (Kementerian Pertanian, 2016).
Upaya peningkatan produksi tomat dapat dilakukan dengan intensifikasi dan ekstensifkasi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan produktivitas lahan melalui sistem pertanaman berganda seperti tumpang sari, penanaman sela bersisipan, penanaman beruntun, tanaman sela setahun dan agroforestri. Pola tanam ini lebih menguntungkan dibandingkan dengan monokultur karena produktivitas lahan menjadi tinggi, jenis komoditas yang dihasilkan beragam, hemat dalam pemakaian sarana produksi dan risiko kegagalan dapat diperkecil (Beets, 1982). Model penanaman tumpang sari memiliki beberapa keuntungan yaitu mengurangi risiko gagal panen, memperbaiki kesuburan, mengurangi erosi dan meningkatkan pendapatan petani (Reintjes dan Woter, 1992).
Keberhasilan penanaman terutama dalam skala yang besar sangat dipengaruhi oleh interaksi antara faktor-faktor biotik, klimatik, edafik, teknik maupun manajemen. Sebagai tanaman yang diperbanyak dengan biji, keberhasilan produksi tomat sangat dipengaruhi oleh kualitas biji atau benihnya (Trisnawati dan Setiawan, 1993). Budidaya tomat dilakukan melalui beberapa tahap, diawali dengan 1) fase persemaian sekitar 0-3 hari setelah semai atau hss, 2) fase tanam yaitu 15 HSS, 3) fase vegetatif yaitu pada hari ke 15-30 hari setelah tanam atau hst, 4) fase generatif yaitu hari ke 30-80 HST 5) fase panen dan pasca panen adalah pada 80-130 HST tergantung dengan jenis tomatnya (Hanum, 2008).
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM MOH ROID SULAIMAN |
| Department | Agroekoteknologi |
| Uncontrolled Keywords | BUDIDAYA; TUMPANGSARI; TOMAT; KACANG PANJANG |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 17 Oct 2026 08:25 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:14 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/25722 |
