TRUNOJOYO-KP-19491-170321100020-PKL_ADILLAH SYAYYIDATUL HUSNA_170321100020_2020.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (924kB)
Abstract
Indonesia dikenal dengan sebutan negara agraris, sebagian besar
Indonesia bergantung pada sektor pertanian. Sektor pertanian memegang peran
penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Pertanian dibagi menjadi
beberapa sub sektor yakni tanaman pangan, holtikultura, perkebunan,
kehutanan, perikanan dan peternakan. Luas lahan garapan dan panen tanaman
holtikultura Indonesia secara rata-rata relatif kecil. Sifat musiman yang terlalu
besar, menejemen usaha tani yang sangat sederhana akibatanya produksi dan
produtvitas sangat kecil dan sangat beragam dari suatu tempat ketempat lainnya.
Salah satu komoditas potensial tanaman holtikulura yakni komoditas buah
nanas (Ananas comosus L.). Produksi nanas menempati posisi ketiga setelah
pisang dan mangga. Berdasarkan Angka Tetap (ATAP) tahun 2015 produksi
nanas mencapai 1,73 juta ton. Untuk wilayah Asia Tenggara, Indonesia termasuk
penghasil nanas terbesar ketiga setelah Filipina dan Thailand dengan kontribusi
sekitar 23%. Secara umum luas panen dan produksi nanas di Indonesia pada
tahun 2011-2015 (Tabel 1.1.) dengan pertumbuhan rata-rata luas panen di Jawa
sebesar 18,17% per tahun, Luar Jawa mengalami penurunan sebesar -0,99%
pertahun dan Indonesia sebesar 2,43 % pertahun. Sedangkan pertumbuhan ratarata
produksi di Jawa sebesar sebesar 2,42% per tahun, Luar Jawa sebesar
6,75% per tahun dan Indonesia sebesar 4,52% pertahun.
Penurunan produktivitas dikarenakan pada umumnya budidaya nanas
belum menerapkan teknologi secara optimal dengan input produksi yang
minimal. Nanas merupakan salah satu komoditas yang memiliki nilai ekonomis
cukup tinggi dan sangat petensial, baik untuk pasar dalam negeri (domestik)
maupun sasaran luar negeri (ekspor). Permintaan pasar dalam negeri terhadap
buah nanas cenderung terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan jumlah
penduduk dan pemahaman penduduk akan nilai gizi dari buah-buahan, serta
semakin bertambahnya permintaan bahan baku industri pengolahan buahbuahan.
Berdasarkan data Kementrian Pertanian (2016), diketahui bahwa rata-rata
konsumsi nanas per kapita pada tahun 2002-2014 sebesar 1,93% per tahun.
Menurut Kementrian Pertanian, 2016 diketahui bahwa 93,91% nanas digunakan
untuk bahan makanan dan sisanya sebesar 6,08 digunakan sebagai olahan
untuk bahan makanan. Pada umumnya buah nanas dipasarkan dalam bentuk
buah segar. Namun disisi lain dalam penjualan buah segar petani sering
menghadapi kendala mengingat sifat produk pertanian yang mudah busuk
sehingga tidak dapat bertahan lama, hal tersebut dapat merugikan petani hingga
ditingkat pedagang. Salah satu sentra buah nanas di Jawa Timur adalah Kota Blitar dan Kediri, dengan kondisi alam dan jenis tanah berpasir sehigga dapat
mendukung proses budidaya nanas. PT Putra Jaya Nanas merupakan
perusahaan yang bergerak disektor pertanian khususnya komoditi nanas mulai
dari budidaya, pengolahan menjadi minuman sari buah nanas hingga
pemasaran.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM ADILLAH SYAYYIDATUL HUSNA; AJENG ARUM PUTRI WULANSARI; MOH FAES; |
| Department | Agribisnis |
| Uncontrolled Keywords | MANAJEMEN AGRIBISNIS;NANAS |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agribisnis |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 17 Oct 2026 03:42 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:13 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/24603 |
