TRUNOJOYO-KP-22887-180351100079-Laporan PKL M. Lutfi A. MSP 180351100079.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (1MB)
Abstract
Ikan patin (Pangasius hypophthalmus) merupakan salah satu jenis ikan
pada komoditas perikanan air tawar yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi.
Produksi ikan patin di Indonesia menunjukkan kenaikan signifikan pada tahun
2006 yaitu mencapai 33.000 ton per tahun dan pada tahun 2016 menjadi 437.000
ton per tahun. Hal tersebut menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara
produsen ikan patin terbesar di dunia (Kementrian Kelautan dan Perikanan, 2018).
Ikan patin memiliki kelebihan seperti pertumbuhan sangat cepat, dan juga dapat
beradaptasi pada perairan yang memiliki kandungan oksigen rendah. Oleh karena
itu ikan patin menjadi incaran bagi para pembudidaya untuk melakukan budidaya
ikan patin (Pangasius hypophthalmus) (Muslim et al, 2009).
Secaran umum dalam kegiatan budidaya perikanan terdapat beberapa
subsistem yang meliputi pembenihan, pendederan dan pembesaran. Ketiga
subsistem tersebut berhubungan satu sama lain. Kegiatan pembenihan merupakan
salah satu kunci keberhasilan untuk tahap kegiatan selanjutnya. Kegiatan
pendederan dan pembesaran yaitu kegiatan lanjutan dari kegiatan pembenihan
(Khairuman, 2009).
Kegiatan pemijahan ikan patin memiliki pola yang secara alami
bergantung pada musim, yaitu setahun sekali yang berlangsung pada bulan
Oktober sampai April (Galuh, 2017). Diluar musim pemijahan jumlah benih ikan
patin yang tersedia sangat sedikit bahkan hampir tidak tersedia. Oleh karena itu
ketersediaan benih ikan patin dapat dilakukan melalui upaya atau teknik
pemijahan secara buatan. Pemijahan ikan patin secara buatan dapat dilakukan
sebanyak tiga kali selama setahun yang digunakan sebagai persediaan benih
(Susanto, 2002).
Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan persediaan benih yang kualitas
baik dalam jumlah cukup dan juga berkelanjutan perlu dilakukan upaya
pembenihan secara terkontrol yaitu dengan cara teknik pemijahan secara buatan.
Teknik pemijahan ikan patin dilakukan dengan memberikan sebuah rangsangan
menggunakan hormon ovaprim yang disuntikkan pada beberapa bagian tubuh ikan (Woynarovich, 1981). Penggunaan hormon ovaprim akan memberikan
dampak yang lebih baik dibandingkan kelenjar hipofisa. Kelebihan dalam
penggunaan hormon ovaprim antara lain pemberian daya rangsang pemijahan
lebih tinggi, tingkat fertilitas lebih tinggi, diameter telur lebih besar dan dapat
menekan angka mortalitas (Sukendi, 1995).
Penulis melaksanakan Praktik Kerja Lapang di Instalasi Perikanan
Budidaya (IPB) Mojokerto dikarenakan penulis tertarik dengan topik tentang
budidaya ikan patin. Ikan patin merupakan salah satu budidaya unggulan yang ada
di IPB Mojokerto. Ikan patin juga saat ini di pasaran harganya cukup stabil dan
banyak diminati oleh masyarakat. Hal itu menjadi alasan penulis ingin mengetahui
budidaya ikan patin lebih mendalam khususnya pada teknik pemijahan buatan.
Instansi Perikanan Budidaya (IPB) Mojokerto dipilih penulis selain topik ikan
patin yang tidak semua instansi bisa melakukan pembenihan ikan patin yaitu
akses menuju instansi ini yang mudah dijangkau.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM MOH. LUTFI ARDIANSYAH |
| Department | Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Uncontrolled Keywords | IKAN PATIN; PEMIJAHAN; BUDIDAYA PERIKANAN |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 19 Oct 2026 11:47 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:45 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/2339 |
