TRUNOJOYO-KP-19146-170341100004-PKL_Desi Liyana Sari_170341100004_2020.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (2MB)
Abstract
Negara Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki pulau sebanyak 17.508 dengan luas wilayah 7.700.000 km2. Indonesia memiliki garis pantai sepanjang 95.181 km yang merupakan garis pantai terpanjang ke4 di dunia (Wiraningtyas et al, 2019). Potensi sektor kelautan dan perikanan yang dapat dikembangkan salah satunya adalah garam. Garam merupakan kebutuhan pokok dan konsumsi sehari-hari masyarakat di Indonesia. Garam merupakan salah satu kebutuhan yang merupakan pelengkap dari kebutuhan pangan. Produksi garam dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhannya, sehingga dalam memenuhi kebutuhan pokok garam masih bergantung pada garam impor. Potensi garam dari laut yang besar tidak memberikan kecukupan kebutuhan garam nasional. Dengan potensi dan daya dukung yang ada seharusnya Indonesia mampu memproduksi dan memenuhi kebutuhan garam di Indonesia (Wiraningtyas et al 2019).
Pentingnya iodisasi garam bagi masyarakat Indonesia yakni mencegah penyakit GAKY atau gangguan akibat kurang yodium. GAKY merupakan gejala-gejala yang timbul karena tubuh manusia kekurangan unsur yodium secara terus menerus dalam jangka waktu yang cukup lama. Iodium sangat penting untuk pertumbuhan otak manusia. Mengkonsumsi garam beriodium sebaiknya dibiasakan sejak dini, hal tersebut dapat bermanfaat untuk anak untuk mencerdaskan. Garam beriodium adalah garam yang telah dicampurkan atau telah mengalami fortifikasi dengan KIO3 (Kalium Iodat) sebanyak 30–80 ppm (Sudarto 2012). Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan Banyuwangi adalah satu dari lima Unit Pelaksana Teknis (UPT) BPSDM Kelautan dan Perikananyang dimiliki KKP, BPPP merupakan balai yang mulai memfokuskan pengembangan salah satu programnya yaitu untuk memproduksi garam beriodisasi. Proses iodisasi dengan metode tradisonal dilakukan dengan cara mencampurkan garam dengan Kalium Iodat KIO3 sesuai dengan rumus yang telah ditetapkan. Sistem pencampuran KIO3 menggunakan metode tradisional yang biasa dilakukan oleh petani garam dan industri garam dalam skala kecil yaitu dengan mencampurkan garam dan KIO3 secara manual. Artinya campuran larutan KIO3 disemprotkan langsung pada garam lalu di aduk secara merata. Garam yang akan diiodisasi harus dalam keadaan kering agar larutan KIO3 dapat tercampur dengan garam secara sempurna (Assadaddan dan Bagus 2011).
Garam yang telah beriodisasi dapat diketahui dengan cara uji hasil iodisasi garam dengan cara tradisional maupun modern. Metode tradisioal ini menggunakan sari singkong dan cuka yang dicampurkan, kemudian di teteskan pada garam yang akan diujui. Garam yang telah beriodium berubah warna menjadi biru. Metode modern dilakukan dengan cara meneteskan garam dengan yodmeter. Uji hasil iodisasi dengan metode tradisional membutuhkan modal yang lebih sedikit daripada metode modern, akan tetapi uji hasil iodisasi menggunkan metode modern lebih akurat dibandingkan metode tradisional. Berangkat dari hal tersebut Praktik Kerja Lapang dilakukan untuk mengetahui proses iodisasi garam dengan metode tradisional.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM Desi Liyana Sari |
| Department | Kelautan |
| Uncontrolled Keywords | IODISASI GARAM |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Ilmu Kelautan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 16 Oct 2026 22:11 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:11 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/23274 |
