IDENTIFIKASI JENIS DAN PERSEN PENUTUPAN LAMUN DI KAWASAN CLUNGUP MANGROVE CONSERVATION TIGA WARNA, KABUPATEN MALANG

Nicki Feri Maryadi Girsang (2020) IDENTIFIKASI JENIS DAN PERSEN PENUTUPAN LAMUN DI KAWASAN CLUNGUP MANGROVE CONSERVATION TIGA WARNA, KABUPATEN MALANG. S1 thesis, Universitas Trunojoyo Madura.
[thumbnail of TRUNOJOYO-KP-19137-170341100055-Laporan PKL_Nicki Feri Maryadi Girsang_170341100055_2020.pdf] PDF
TRUNOJOYO-KP-19137-170341100055-Laporan PKL_Nicki Feri Maryadi Girsang_170341100055_2020.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (7MB)

Abstract

Dusun Sendang Biru merupakan bagian dari Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Luas wilayah desa Tambakrejo keseluruhan adalah 2.738.80 km2 . Dari luas desa tersebut sebagian besar digunakan sebagai area hutan, pesisir dan tegal, sisanya pekarangan, kebun, sawah, perumahan penduduk, pemukiman maupun prasarana umum lainnya. Penduduk Tambakrejo berjumlah 8.424 jiwa terdiri dari 4.362 nelayan dan 1.791 KK. Kondisi masyarakat Dusun Sendang Biru didominasi oleh masyarakat yang bekerja sebagai nelayan. Selain nelayan, masyarakat juga ada yang bercocok tanam dan berwiraswasta. Desa Tambakrejo secara administrasi memiliki panjang garis pantai 8 km yang di depannya terbentang Pulau Sempu sebagai pelindung ombak alami, demikian juga di Dukuh Sendangbiru Desa Tambakrejo sudah di bangun pelabuhan perikanan pesisir,sehingga potensi pengembangan Ekowisata bahari sangat terbuka (Husamanah dan Atok 2018).
Saat ini salah satu tempat ekowisata bahari yang sedang berkembang di Dusun Sendang Biru, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang Desa tersebut adalah Clungup Mangrove Consevation (CMC) Tiga Warna. Clungup Mangrove Consevation (CMC) Tiga Warna adalah destinasi ekowisata baru yang banyak disenangi pengunjung karena memiliki keindahan dan daya tarik yang sangat bagus. Ekowisata ini dikelola oleh kelompok masyarakat bernama “Bhakti Alam Sendang Biru” yang dikoordinasi oleh Bapak Saptoyo yang bertujuan untuk menyelamatkan ekosistem mangrove dan pantai atau pesisir yang berdiri sejak tahun 2012. Kawasan pesisir sendang biru memiliki luas 177,24 Ha (71 ha mangrove, 10 ha terumbu karang dan 96,24 ha hutan lindung ). Clungup Mangrove Consevation (CMC) Tiga Warna mengelola 6 pantai, yaitu Pantai Clungup, Pantai Gatra, Pantai Savana, Pantai Mini, Pantai Watu Pecah dan Pantai Tiga Warna (Anggawa 2016).
Menurut Kementrian Kelautan Dan Perikanan Clungup Mangrove Consevation (CMC) Tiga Warna merupakan wujud ekowisata berbasis masyarakat yang sangat baik walaupun sistem pengelolaannya baru dilakukan tahun 2012. Menurut Haerani (2012) ekowisata merupakan kegiatan parawisata atau wisata terbatas yang memanfaatkan tatanan, nilai dan fungsi ekologi sebagai obyek dan tujuan keparawisataan. Sementara itu menurut, TIES (2015) ekowisata didefinisikan sebagai perjalanan yang bertanggung jawab ke daerah-daerah alami yang melestarikan lingkungan, menopang kesejahtraan masyarakat setempat dan melibatkan interpretasi dan pendidikan. Ekowisata merupakan suatu konsep pengembangan parawisata berkelanjutan yang bertujuan untuk mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan dan meningkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sehingga memberi manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat (Husamah dan Atok 2018).
Ekosistem yang terdapat dalam kawasan Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna yaitu ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove, ekosistem padang lamun dan lainnya. Padang lamun adalah salah satu ekosistem yang harus kita lindungi karena mempunyai banyak peranan penting dalam ekosistem perairan. Padang lamun adalah tumbuhan laut yang mempunyai banyak manfaat dan tidak banyak diketahui masyarakat pesisir sehingga banyak rusak akibat ulah masyarakat. Kerusakan ekosistem lamun dapat terjadi gelombang besar, erosi dan sebagian besar terjadi karena ulah manusia pada saat menangkap ikan di area padang lamun. Lamun memiliki manfaat sebagai tempat pemijahan beberapa jenis ikan, sumber makanan aneka heawan laut, pendegradasi zat hara dan lainnya ( Rahma dan Rifki 2018 ). Lamun (sea grass), atau disebut juga ilalang laut merupakan satu-satunya kelompok tumbuh-tumbuhan berbunga yang terdapat di lingkungan laut. Tumbuh-tumbuhan ini hidup di habitat perairan pantai yang dangkal. Seperti halnya rumput didarat, mereka mempunyai tunas berdaun tegak dan tangkai-tangkai yang merayap yang efektif untuk berkembang biak. Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan laut yang lainnya (alga dan rumput laut), lamun berbunga, berbuah, dan menghasilkan biji. Mereka juga mempunyai akar dan sistem internal untuk menghangkut gas dan zat-zat hara. Salah satu bentuk kekayaan flora di perairan Indonesia yaitu adanya tumbuhan lamun. Lamun adalah satu-satunya kelompok tumbuhan berbunga yang hidup dilingkungan laut ( Pranata et al. 2018). Lamun merupakan produktifitas primer di perairan dangkal di seluruh dunia dan merupakan sumber makanan penting bagi banyak organisme. Fungsi-fungsi di dalam ekosistem ini pun harus berlangsung dalam satu satuan rangkaian dimana satu sama lainnya tidak dapat dipisahkan. Semua ekosistem selalu terbuka, sebab semua ekosistem mempunyai batas-batas yang nyata. Ada energi dan bahan-bahan yang terbentuk didalamnya yang terus menerus keluar dari ekosistem setelah digunakan oleh organisme yang hidup didalamnya.Tempat hidup sekelompok makluk hidup disebut habitat. Makro habitat dibagi atas habitat darat dan habitat air (Nyabakken 1988). Lamun sangat berperan dalam ekosistemnya yaitu dalam hal dapat menstabilkan garis pantai karena lamun ini memiliki akar yang terjalin dengan kuat sehingga dapat menstabilkan substrat yang ada agar tidak cepat tererosi oleh arus maupun gelombang air laut.Selain itu juga fungsinya dalam mempertahankan kehidupan dari biota-biota laut seperti ikan dalam bentuk juvenille karen lamun ini berfungsi dalam hal nursery ground, feeding ground, dan spawning ground. Tumbuh-tumbuhan ini hidup di habitat perairan pantai yang dangkal, seperti halnya rumput didarat, mereka mempunyai tunas berdaun tegak dan tangkai-tangkai yang merayap yang efektif untuk berkembang biak. Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan laut yang lainnya. Lamun mempunyai akar dan sistem internal untuk menghangkut gas dan zat-zat hara.Lamun merupakan produktifitas primer di perairan dangkal di seluruh dunia dan merupakan sumber makanan penting bagi banyak organisme (Amran dan Ambo 2009). Penurunan luas padang lamun lamun secara global adalah penurunan kecerahan air, baik karena peningkatan kekeruhan air maupun kenaikan masukan zat hara ke perairan. Pada daerah sub tropis (temperate), kehilangan padang lamun disebabkan oleh alih fungsi wilayah pesisir menjadi kawasan industri, pemampatan (deposition) udara, dan banjir. Penyebab utama hilangnya padang lamun di daerah tropis adalah peningkatan masukan sedimen ke perairan pesisir akibat pembukaan lahan hutan dan penebangan mangrove untuk kegiatan budidaya perikanan dan tambak garam. Penurunan luas padang lamun di Indonesia dapat disebabkan oleh faktor alami dan hasil aktivitas manusia terutama di lingkungan pesisir. Faktor alami tersebut antara lain gelombang dan arus yang kuat, badai, gempa bumi, dan tsunami. Sementara itu, kegiatan manusia yang berkontribusi terhadap penurunan area padang lamun adalah reklamasi pantai, pengerukan dan penambangan pasir, serta pencemaran (Amran dan Ambo 2009). Berdasarkan uraian diatas perlu dilakukan Praktek Kerja Lapang (PKL) identifikasi jenis dan penutupan lamun agar dapat mengetahui data penutupan dan jenis lamun pada setiap pantai, manfaat padang lamun dan penurunan luasan padang lamun di kawasan Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermajing Wetan, Kaupaten Malang.

Item Type Thesis (Skripsi)
Thesis Type S1
Creators
Creators
NIM
Nicki Feri Maryadi Girsang
Department Kelautan
Uncontrolled Keywords IDENTIFIKASI JENIS;LAMUN
Divisions Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Ilmu Kelautan
Additional Information elib mass import
Depositing User Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id
Date Deposited 16 Oct 2026 22:09
Last Modified 24 Oct 2026 17:11
URI https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/23258

Actions (login required)

View Item
View Item