PERBANDINGAN PRODUKSI GARAM SISTEM REBUSAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE INTENSIF DAN METODE TRADISIONAL DI BPPP BANYUWANGI

DESI SURYANA SUCI (2020) PERBANDINGAN PRODUKSI GARAM SISTEM REBUSAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE INTENSIF DAN METODE TRADISIONAL DI BPPP BANYUWANGI. S1 thesis, Universitas Trunojoyo Madura.
[thumbnail of TRUNOJOYO-KP-19133-170341100026-PKL_Desi Suryana Suci_170341100026_2020.pdf] PDF
TRUNOJOYO-KP-19133-170341100026-PKL_Desi Suryana Suci_170341100026_2020.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)

Abstract

Indonesia adalah negara maritim yang memiliki garis pantai terpanjang nomor dua di dunia. Garis pantai Indonesia yaitu sepanjang 81.000 km². Letak geografis Indonesia seharusnya dapat menghasilkan garam yang memenuhi kebutuhan dalam negeri. Nyatanya rakyat Indonesia masih belum terlalu berminat untuk menjadi petani garam. Harga garam yang masih rendah adalah pemicu enggannya rakyat Indonesia yang menjadi petani garam. Kualitas garam yang dihasilkan pun tidak mencapai SNI (Standart Nasional Indonesia) yang ditetapkan untuk garam konsumsi atau industri (Izzaty dan Permana 2011).
Cuaca adalah salah satu faktor proses produksi garam. Target produksi garam dapat tercapai apabila kondisi cuaca ketika proses produksi memungkinkan. Hujan adalah salah satu faktor penghambat terbentuknya garam. Kondisi tambak garam pada sentra garam masih banyak yang bersifat tradisional, sehingga parameter iklim adalah salah satu faktor utama pada produksi garam. Garam tidak dapat mengkristal ketika musim penghujan, karena tidak ada proses evaporasi. Proses evaporasi membutuhkan sinar matahari, dimana dapat diperoleh ketika musim kemarau. Produksi garam tidak dapat dilakukan ketika musim penghujan, karena garam tidak akan terbentuk. Alternatif untuk memproduksi garam di musim penghujan yaitu menggunakan sistem rebusan (Adiraga dan Setiawan 2014).
Sistem rebusan yaitu salah satu alternatif yang digunakan untuk memproduksi garam di musim penghujan. Petani garam yang tidak memiliki tambak garam juga dapat memproduksi garam dengan sistem rebusan denan cara membeli garam krosok. Garam krosok tersebut dilarutkan pada air tawar atau air laut, kemudian direbus. Garam yangdihasilkan dari sistem rebusan memiliki kualitas NaCl yang tinggi, dimana dapat mencapai 94-98 %. Harga garam yang memiliki kadar NaCl yang tinggi tentunya lebih mahal, sehingga dapat membantu perekonomian masyarakat (Umam 2019).
Jawa Timur adalah salah satu provinsi yang memberikan kontribusi terhadap produksi garam nasional. Jumlah produksi garam di Jawa Timur pada tahun 2018 sebesar 952.286 ton. Jumlah tersebut menyatakan bahwa Jawa Timur menyumbang 49,07% terhadap produksi garam nasional, dimana tahun 2018 produksi garam nasional mencapai 1.904 ton/tahun. Penghasil garam di Jawa Timur tersebar di 12 kota ataupun kabupaten, diantaranya yaitu Probolinggo, Pasuruan, Sidoarjo, Tuban, Lamongan, Gresik, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, Kota Pasuruan, dan Kota Surabaya. Pulau Madura memberikan kontribusi terbesar penghasil garam di Jawa Timur, yaitu sebesar 37,11% (Globalnews 2019).
BPPP Banyuwangi (Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan) adalah salah satu instansi yang memiliki program untuk momfokuskan kualitas garam di Indonesia. BPPP Banyuwangi memiliki salah satu sistem untuk meningkatkan kualitas garam, yaitu dengan sistem rebus. Berangkat dari hal tersebut Praktik Kerja Lapang (PKL) untuk mengetahui proses produksi garam sistem rebusan dengan mengguakan metode intensif dan meode tradisional.

Item Type Thesis (Skripsi)
Thesis Type S1
Creators
Creators
NIM
DESI SURYANA SUCI
Department Kelautan
Uncontrolled Keywords PRODUKSI GARAM;REBUSAN
Divisions Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Ilmu Kelautan
Additional Information elib mass import
Depositing User Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id
Date Deposited 16 Oct 2026 22:07
Last Modified 24 Oct 2026 17:11
URI https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/23250

Actions (login required)

View Item
View Item