TRUNOJOYO-Tugas Akhir-38196-Abstract.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (136kB)
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-38196-Cover.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (4MB)
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-38196-Chapter1.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (411kB)
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-38196-Chapter2.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (220kB)
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-38196-Chapter3.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (468kB)
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-38196-Chapter4.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (473kB)
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-38196-Chapter5.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (578kB)
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-38196-Conclusion.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (165kB)
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-38196-References.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (163kB)
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-38196-Appendices.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (445kB)
Abstract
Penelitian ini bertujuan mengungkap makna simbol dalam kontes Pemilihan Kacong Jhebbing Bangkalan melalui perspektif semiotika komunikasi visual. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana simbol-simbol visual—seperti busana adat, tata panggung, dan gestur finalis—mewakili identitas budaya masyarakat Bangkalan. Dengan teori semiotika Roland Barthes, penelitian menelaah tanda-tanda pada level denotasi, konotasi, dan mitos untuk memahami bagaimana nilai, ideologi, serta narasi budaya lokal ditransmisikan dalam ajang tersebut. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan paradigma konstruktivis. Data diperoleh melalui observasi tayangan grand final Pemilihan Kacong Jhebbing Bangkalan tahun 2023–2024, dokumentasi visual media resmi, studi literatur budaya lokal, serta wawancara dengan panitia. Analisis dilakukan dengan semiotika Roland Barthes untuk memetakan tanda pada level denotatif dan konotatif, sehingga mengungkap representasi budaya lokal dalam kontes ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kacong Jhebbing Bangkalan bukan sekadar ajang kecantikan, tetapi media komunikasi visual yang sarat makna budaya. Busana adat tidak hanya berfungsi sebagai pakaian tradisional Madura, tetapi juga merepresentasikan kesederhanaan, keberanian, dan kesopanan. Tata panggung mencerminkan harmoni dan identitas kolektif, sementara gestur finalis menegaskan kepemimpinan dan citra ideal generasi muda. Dengan demikian, kontes ini menjadi ruang simbolis yang melestarikan identitas budaya masyarakat Bangkalan dalam konteks modern.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM FERNAS FATHIADY |
| Department | Ilmu Komunikasi |
| Uncontrolled Keywords | Semiotika; Roland Barthes; Kacong Jhebbing Bangkalan; Simbol Visual; Identitas Budaya |
| Divisions | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya > S1 - Ilmu Komunikasi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 16 Oct 2026 22:05 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:11 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/23230 |
