TRUNOJOYO-KP-28553-200351100031-Ridha Olnis Syawallita_200351100031_Laporan PKL-digabungkan (1).pdf
Restricted to Repository staff only
Download (6MB)
Abstract
Rumput laut merupakan tanaman makro alga dan termasuk dalam divisi
Thallophyta (tumbuhan bertalus), yaitu dari segi morfologi rumput laut tidak
memperlihatkan adanya perbedaan yang jelas antara akar, batang, dan daun
dimana bagian tersebut biasa disebut dengan talus. Indonesia dan Philipina
merupakan dua negara penyuplai terbesar bahan baku rumput laut bagi negara-
negara yang membutuhkan. Faktor penting yang menentukan keberhasilan
usaha budidaya rumput laut adalah penggunaan bibit yang memiliki kualitas baik,
yaitu bibit yang dapat tumbuh dengan cepat dan memiliki cabang yang banyak
serta bebas dari serangan penyakit. Bibit rumput laut yang digunakan secara
terus menerus akan mengalami penurunan kualitas hidupnya, alternatif untuk
mengatasi kendala tersebut yakni dengan menggunakan bibit yang berkualitas
yang dihasilkan melalui kultur jaringan (Ismariani et al., 2019).
Rumput laut (Kappaphycus alvarezii) adalah salah satu komoditas unggulan
di bidang perikanan dan kelautan Indonesia karena jenis rumput laut ini
menghasilkan karagenan yang bernilai ekonomis tinggi. Karagenan merupakan
senyawa hidrokoloid dari polisakarida rantai panjang yang diperoleh dari hasil
ekstraksi rumput laut dengan menggunakan air panas atau larutan alkali pada
temperatur tinggi. Dalam dunia industri dan perdagangan, karagenan
memberikan banyak manfaat antara lain dalam industri farmasi, makanan, dan
kosmetik sebagai stabilator, bahan pengental, pembentuk gel, dan pengemulsi.
Kendala dalam pengadaan bibit rumput laut (Kappaphycus alvarezii) diantaranya
adalah iklim di laut yang tidak bisa dikendalikan. Pada waktu atau musim
tertentu, kondisi perairan tidak cocok untuk pertumbuhan rumput laut sehingga
semuanya mati atau tumbuh tidak optimal, sehingga pada musim tanam
berikutnya ketersediaan bibit sangat sedikit atau bahkan tidak ada. Hal ini
menyebabkan penyediaan bibit secara berkesinambungan untuk peningkatan
luas area budidaya belum dapat terpenuhi (Darmawati, 2013).
Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara
mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan
bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik dalam wadah
tertutup sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan beregenerasi
menjadi tanaman lengkap. Teknik kultur jaringan telah banyak dikembangkan untuk produksi bibit pada tanaman pertanian, kehutanan, dan buah-buahan. Bibit
yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain
mempunyai sifat yang identik dengan induknya, tidak terlalu membutuhkan
tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar. Kesehatan
dan mutu bibit yang dihasilkan lebih terjamin. Produksi bibit di laboratorium kultur
jaringan bisa dilakukan sepanjang tahun tanpa dipengaruhi musim atau iklim di
perairan pantai yang tidak bisa dikendalikan, oleh karena itu dengan teknik kultur
jaringan bibit rumput laut diharapkan dapat tersedia seacara berkesinambungan
sepanjang tahun untuk pembudidaya (Cokrowati et al., 2018).
Penyediaan bibit secara konvensional memeiliki beberapa kelemahan
diantaranya ketersediaan bibit yang sangat tergantung dari kondisi alam, adanya potensi penurunan kualitas rumput laut karena pemakaian bibit yang berulang-
ulang dalam beberapa kali siklus budidaya, umur bibit yang melebihi standar dan tidak ada perbaikan kualitas bibit. Penggunaan bibit dari alam memiliki
permasalahan pada variasi fisiologinya seperti pertumbuhan dan kandungan
agar. Budidaya rumput laut menggunakan bibit yang diproduksi secara vegetatif
dari sisa hasil budidaya memungkinkan epifit, parasit atau patogen dari rumput
laut hasil panen sebelumnya terbawa kembali pada siklus budidaya selanjutnya
dan dapat mengakibatkan penurunan produksi.
Beberapa keuntungan perbanyakan bibit rumput laut melalui kultur jaringan
dibandingkan metode konvensional diantaranya memungkinkan untuk
menghasilkan tanaman yang seragam dalam jumlah yang banyak dari strain
yang telah terseleksi dengan karakteristik yang diinginkan, dapat menghindari
eksploitasi sumber bibit dari alam secara berlebihan, sebagai sumber plasma
nutfah dimana lokasi yang jauh dari sumber bibit alam dapat memanfaatkan
sumber plasma nutfah dari hasil kultur jaringan, memungkinkan penyediaan bibit
rumput laut dengan generasi baru, umur bibit rumput laut yang digunakan dalam
budidaya dapat terselusur sehingga memudahkan untuk memperkirakan waktu
untuk memperbaharui bibit. Dengan kultur jaringan penyediaan bibit dapat
dilakukan secara in vitro sehingga dapat dilakukan secara kontinue tidak
tergantung pada kondisi alam.
Berdasarkan uraian di atas bahwa kultur jaringan rumput laut bagus untuk
dikembangkan karena peminat dalam pemasaran dan nilai jual yang tinggi.
Pelaksanaan kegiatan dalam mendukung pengembangan budidaya air payau di
instansi Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara didasari pengalaman yang ada. Penulis dalam kegiatan Praktik Kerja Lapang bisa menyerap ilmu
budidaya yang didapatkan dalam teknik kultur jaringan rumput laut. Kegiatan
kultur jaringan rumput laut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan rumput laut dan
meningkatkan produksi rumput laut guna terpenuhinya permintaan pasar.
Kendala yang ditemukan pada kegiatan kultur jaringan yaitu ketersediaan bibit
rumput laut untuk kultur jaringan serta kontaminasi menjadi faktor yang sering
dihadapi pada kegiatan kultur jaringan.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM Ridha Olnis Syawallita |
| Department | Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Uncontrolled Keywords | RUMPUT LAUT |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 16 Oct 2026 16:10 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:09 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/21794 |
