ANALISIS BAHAN ORGANIK TOTAL, AMMONIUM, NITRAT, NITRIT, DAN FOSFAT PADA TAMBAK UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) di PT. TANJUNG BUMI AKUAKULTUR INDONESIA BANGKALAN JAWA TIMUR

SEKAR WANGI DYAH KUSUMAWARDANI (2023) ANALISIS BAHAN ORGANIK TOTAL, AMMONIUM, NITRAT, NITRIT, DAN FOSFAT PADA TAMBAK UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) di PT. TANJUNG BUMI AKUAKULTUR INDONESIA BANGKALAN JAWA TIMUR. S1 thesis, Universitas Trunojoyo Madura.
[thumbnail of TRUNOJOYO-KP-28552-200351100020-SEKAR WANGI D.K_200351100020_LAPORAN PKL.pdf] PDF
TRUNOJOYO-KP-28552-200351100020-SEKAR WANGI D.K_200351100020_LAPORAN PKL.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (2MB)

Abstract

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu komoditas yang
unggul dimana hal ini sudah ditetapkan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan. Udang
vaname mempunyai pangsa pasar yang luas, sehingga tidak heran jika banyak orang yang
ingin berinventasi pada kegiatan budidaya udang vaname. Permintaan udang vaname yang
meningkat dari tahun ke tahun didasari oleh pertumbuhan produk dunia yang pesat serta
kesadaran akan pertumbuhan nutrisi dari udang vaname itu sendiri, dimana udang vaname
mengandung banyak protein. Udang vaname merupakan salah satu organisme yang dapat
hidup di laut yang berpotensi untuk di ekspor, bahkan devisa negara hasil perikanan lebih
dari 50% berasal dari komoditas udang (Prakoso et al., 2016).
Udang vaname merupakan udang yang tahan akan penyakit, sehingga peminat dalam
budidaya udang vaname semakin meningkat. Peminat udang vaname tidak hanya dari
warga lokal atau negara Indonesia saja, bahkan tujuan terbanyak eskpor udang vaname
pada negara Singapura, Malaysia, Tiongkok dan negara lainnya. Data Badan Pusat Statistik
(BPS) menyatakan beberapa negara dengan nilai ekspor udang vaname terbanyak pada
negara Singapura menempati urutan teratas, negara tujuan ekspor udang budidaya terbesar
mencapai 1,89 juta kg, Malaysia berada pada urutan berikutnya sebesar 2,07 juta kg,
kemudian ekspor udang budidaya pada negara Tiongkok sebanyak 733,3 ribu kg (Prakoso
et al., 2016).
Farionita et al (2018), menyatakan budidaya udang vaname yang menggunakan
metode tambak intensif memiliki padat tebar benur yang tinggi, sehingga produktivitas
persatuan luas tambak relatif lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan metode
budidaya tradisional. Budidaya udang vaname dengan cara tradisional, membutuhkan
biaya untuk budidaya yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan metode budidaya pada
tambak intensif. Hal ini, menyebabkan padat tebar benur lebih rendah, sehingga
produktivitas persatuan tambak lebih rendah.
Budidaya udang vaname super intensif sepenuhnya mengandalkan masukan pakan
berupa pellet yang mencapai kisaran 60-70%. Akibat tebar benur yang tinggi dapat
menyebabkan endapan pakan pada dasar permukaan perairan. Pemberian pakan yang di
berikan sebagian besar akan dimanfaatkan oleh udang melalui proses pencernaan, sehingga
akan memperoleh energi dan nutrisi yang tersimpan dalam jaringan udang sebagai
biomassa. Sisa pakan yang terbuang sebagai hasil ekskresi baik dalam bentuk terlarut maupun feses yang terbuang kedalam badan air akan mengalami proses pelarutan,
sedimentasi, mineralisasi dan disperse (Suriawan et al., 2019).
Sisa pakan yang tidak termakan akan mengalami pelarutan pada sedimentasi dasar
perairan. Sisa pakan dan feses udang merupakan potensi sumber bahan organik N dan P
yang dapat mempengaruhi tingkat kesuburan (eutrofikasi) dan kelayakan kualitas air bagi
kehidupan udang. Hal ini juga dapat menjadi salah satu aspek penentu daya dukung
lingkungan perairan bagi upaya optimalisasi alokasi sumberdaya perikanan budidaya yang
berkelanjutan.
Budidaya udang secara intensif memiliki padat tebar benur yang cukup tinggi dengan
jumlah pemberian pakan yang cukup banyak. Pakan yang tidak termakan dan sisa
metabolisme udang akan menjadi bahan pencemar dan terakumulasi menjadi bahan
organik sehingga dapat memicu peningkatan konsentrasi ammonia (NH3). Suhendar et al
(2020), menjelaskan bahwa ketika bahan organik mencapai nilai 17,73 mg/l akan
menghasilkan ammonia (NH3) pada batas maksimum (0,1 mg/l), dan ketika bahan organik
mencapai nilai 88,4 mg/l akan menghasilkan nitrit (NO2) pada batas maksimum (0,06
mg/l), dimana nilai tersebut merupakan batas maksimum untuk budidaya udang vaname.
Padatan tersuspensi dalam media pemeliharaan udang vaname didominasi oleh bahan
organik sebesar 94-96% yang diantaranya terdiri dari plankton, bakteri, khamir, dan
partikel fermentasi (Syah et al., 2014).
Pentingnya menjaga stabilitas keseimbangan senyawa nitrogen (NH3, NO2, dan
NO3) serta total bahan organik yang masuk kedalam perairan tambak intensif agar
kebutuhan udang terpenuhi dengan semestinya. Hal ini perlu adanya pemantuan dengan
melihat fluktasi bahan organik total, ammonium, nitrat, nitrit dan fosfat yang terjadi pada
PT. Tanjung Bumi Akuakultur Indonesia (TBAI) Bangkalan, Jawa Timur. PT. Tanjung
Bumi Akuakultur Indonesia merupakan salah satu instansi yang termasuk dalam tambak
udang intensif dengan berbagai parameter pengujian seperti bahan organik total, hardness,
alkalinitas, amonia, nitrat, nitrit, fosfat, bakteri, virus, dan juga plankton. Sehingga atas
dasar pemikiran tersebut, dilakukan Praktik Kerja Lapang (PKL) yang bertujuan untuk
mengetahui prosedur Analisis bahan organik total, ammonium, nitrat, nitrit dan fosfat pada
tambak udang vaname di PT. Tanjung Bumi Akuakultur Indonesia (TBAI) Bangkalan,
Jawa Timur.

Item Type Thesis (Skripsi)
Thesis Type S1
Creators
Creators
NIM
SEKAR WANGI DYAH KUSUMAWARDANI
Department Manajemen Sumberdaya Perairan
Uncontrolled Keywords UDANG VANAME
Divisions Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan
Additional Information elib mass import
Depositing User Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id
Date Deposited 16 Oct 2026 16:10
Last Modified 24 Oct 2026 17:09
URI https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/21791

Actions (login required)

View Item
View Item