TRUNOJOYO-KP-28496-200351100039-Laporan PKL_Dwi Cecarwati_039_MSP.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (2MB)
Abstract
Ikan nila adalah kelompok ikan subtropis hingga tropis yang berasal dari Afrika
dan Timur Tengah bagian barat daya. Ikan ini berasal dari Taiwan, Thailand dan
Filipina dan pertama kali didatangkan ke Indonesia pada tahun 1969, 1990, dan 1994.
Informasi lain menyebutkan bahwa pengenalan pertama dan pembentukan ikan nila
non-pribumi diyakini telah terjai di Jawa pada tahun 1939-an sebagai akibat dari
pelepasan ikan nila Mozamik (Oreochromis mossambicus). Ikan nila memiliki nama
latin atau nama ilamiah sebagai Oreochromis niloticus, sementara nama umunya
berbeda pada setiap negara. Indonesia menyebut ikan ini sebagai “ikan nila” nama
diambil dari kata “nil” yang artinya sungai nil, dimana asal mula dari ikan ini (Putra et
al., 2011).
Ikan nila termasuk jenis ikan air tawar yang banyak diminati oleh masyarakat
baik lokal maupun mancanegara. Ikan nila tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan
lokal akan tetapi juga dapat memenuhi kebutuhan ekspor. ikan nila sebagai komoditas
ekspor banyak diminati terutama dalam bentuk filet. Minat masyarakat terhadap ikan
ini dikarenakan nilai gizinya. Menurut laporan United Nations ‘food and agriculture
organisation (FAQ) state of the world’s Fisheries and Aquaculture 2022, lebih dari satu
milliar orang seluruh dunia bergantung pada ptotein hewani dari ikan, dan sekitar 56%
dari populasi dunia memperoleh setidaknya 20% dari asupan protein hewani dari ikan.
Ikan nila merupakan sumber protein hewani yang terjangkau bagi manusia. Ikan nila
ini terdapat kandungan asam lemak omega-6 yang tinggi sementara asam lemak
omega-3 yang rendah. 100 gram ikan nila mengandung kurang lebih 26 gram protein
dan 126 kalori (Pramana Simanjuntak, 2013).
Ikan nila bisa hidup diperairan dalam dan luas ataupun di kolam yang sempit
dan dangkal, tidak hanya itu ikan nila juga hidup di waduk, danau rawa sawah, tambak
air payau, dalam jaring terapung dilaut serta di sungai yang tidak terlalu deras
alirannya dan juga di kolam beton dan terpal. Kolam beton dan kolam terpal banyak
diminati sebagai media pemeliharaan ikan karena media ini lebih praktis. Kolam beton
ialah kolam yang dasar sisi-sisinya terbuat dari beton sedangkan kolam yang dasar
serta sisi-sisinya terbuat dari terpal merupakan kolam terpal. Dua kolam tersebut dapat digunakan untuk kegiatan budidaya ikan dengan memanfaatkan lahan yang
sempit. Kolam terpal memiliki keunggulan yaitu murah dan tempatnya dapat diubah
sewaktu-waktu (Monalisa Infa, 2010).
Budidaya ikan berhubungan dengan kelestarian lingkungan karena, Ikan akan
hidup dan berkembang biak dengan baik apabila lingkungan yang tersedia sesuai
dengan kebutuhan hidupnya. Parameter utama dalam budidaya ikan salah satunya
yaitu kualitas air. Kualitas air dapat dilihat dari besaran fisika, kimia, dan biologi.
Kualitas air untuk budidaya ikan air tawar perlu memenuhi beberapa persyaratan
karena air yang kurang baik dapat menyebabkan ikan mudah terserang penyakit.
Sumber air yang baik pada pemeliharaan ikan harus memenuhi kriteria kuaitas air
yang melputi sifat-sifat fisika dan kimia seperti, suhu, pH, kekeruhan,; DO, ammonia,
dan lain sebagainya. Kualitas air pada kola mikan sangat menentukan keberhasilan
budidaya (Fauzia Suseno, 2020).
Kualitas air yang diukur pada Praktik Kerja Lapang ini meliputi suhu, pH,
oksigen terlarut (DO) dan amonia. Temperatur air kolam budidaya juga sangat
berpengaruh terhadap organisme yang ada dalam kolam tersebut. Peningkatan dan
penurunan suhu air kolam yang tidak sesuai dengan kondisi ikan akan menyebabkan
ikan kesulitan melakukan proses mobilisasi energi dan berakibat kematian dalam
waktu singkat. Pentingnya pemantuan kualitas air secara berkelanjutan pada
budidaya perikanan, maka perlu dirancang suatu perangkat sistem kontrol dan
monitoring kualitas air dan suhu air pada kolam budidaya ikan yang dapat di kontrol
secara otomatis dan dimonitoring dari jauh (Monalisa Infa, 2010).
Keberadaan ammonia dalam air bisa mengganggu ekosistem perairan dan
makhluk hidup lainnya. Ammonia sangat beracun untuk organisme didalam air.
ammonia bisa bersifat racun pada manusia jika jumlah yang masuk tubuh melebihi
jumlah yang dapat didetoksifikasi oleh tubuh. Resiko terbesar pada manusia adalah
dari penghirup uap ammonia yang mengakibatkan beberapa efek seperti iritasi pada
kulit, mata dan saluran pernafasan pada tingkat yang sangat tinggi, penghirup uap
ammonia sangat bersifat fatal. Ammonia jika terlarut diperairan akan meningkatkan
konsentrsi ammonia yang berakibat keracunan bagi hampir semua organisme
perairan (Riska emilia Sartika Dauhan, 2014).
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM DWI CECARWATI |
| Department | Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Uncontrolled Keywords | IKAN NILA |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 16 Oct 2026 15:16 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:09 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/21562 |
