TRUNOJOYO-KP-18552-170311100061-Cover.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (364kB)
TRUNOJOYO-KP-18552-170311100061-Bab 1.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (105kB)
TRUNOJOYO-KP-18552-170311100061-Bab 2.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (188kB)
TRUNOJOYO-KP-18552-170311100061-Bab 3.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (79kB)
TRUNOJOYO-KP-18552-170311100061-Bab 4.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (751kB)
TRUNOJOYO-KP-18552-170311100061-Bab 5.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (79kB)
TRUNOJOYO-KP-18552-170311100061-Daftar Pustaka.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (78kB)
TRUNOJOYO-KP-18552-170311100061-Lampiran.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (237kB)
Abstract
Tanaman pepaya (Carica papaya L.) merupakan tanaman buah tropis yang mempunyai kandungan gizi yang tinggi, berbuah sepanjang tahun tanpa mengenal musim, produksi cepat dan memiliki nilai komersial tinggi. Selain memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi tanaman pepaya juga cocok ditanam di daerah tropik dan subtropik (Teixeira da Silva et al. 2007). Buah pepaya merupakan buah meja yang memiliki nilai mutu dan bergizi tinggi.
Tingkat konsumsi masyarakat terhadap buah pepaya meningkat seiring dengan kesadaran arti penting buah. Tanaman buah pepaya memiliki daging buah yang lunak dengan warna merah atau kuning, rasa yang manis dan menyegarkan serta mengandung banyak air. Sebagai buah segar, pepaya banyak dikonsumsi karena mengandung nutrisi yang baik, selain itu harganya juga relatif terjangkau dibanding dengan buah lainnya (Sujiprihati dan Suketi 2009).
Tanaman pepaya diperkirakan mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1925 – 1930. Pada saat ini pepaya sudah tersebar luas di Jawa. Tanaman pepaya hanya sebagai tanaman hias atau tanaman pekarangan. Setelah tanaman pepaya diketahui menyimpan potensi yang cukup besar, barulah tanaman pepaya dibudidayakan secara komersial. Sentra penanaman pepaya di Indonesia sebagian besar Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.
Tingginya produksi pepaya nasional belum diikuti dengan peningkatan kualitas buah sehingga tidak dapat memenuhi selera konsumen di dalam dan di luar negeri. Produktivitas tanaman pepaya sangat ditentukan oleh penyediaan benih bermutu. Untuk penyediaan benih pepaya biasanya didapatkan melalui perbanyakan secara generatif dari biji. Benih bermutu didapatkan melalui selfing tanaman pepaya yang mempunyai bunga hermaprodit dan sudah stabil produksinya pada beberapa generasi (Budiyanti 2016). Sistem produksi pepaya terkendala oleh terbatasnya varietas unggul yang berumur genjah dan tanaman berukuran pendek (Sujiprihati dan Sulistyo 2004).
Meningkatkan kualitas buah pepaya diperlukan usaha khusus dalam perbenihannya, terutama dalam perbanyakan yang dilakukan. Perbanyakan tanaman adalah proses menciptakan tanaman baru dari berbagai sumber atau bagian tanaman, seperti biji, batang, umbi, dan bagian tanaman lainnya. Tujuan utama dari perbanyakan tanaman adalah untuk mencapai pertambahan jumlah, memelihara sifat-sifat penting dari tanaman dan juga untuk mempertahankan eksistensi jenisnya (Ashari 2010).
Pepaya Merah Delima merupakan salah satu varietas unggul yang dihasilkan oleh Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Badan Litbang Pertanian yang telah dirilis berdasarkan SK MENTAN NO.2275/KPTS/SR.210/05/2011, sehingga perlu dilakukan penyebaran informasi tentang bagaimana cara budidaya yang benar agar tanaman pepaya berproduksi tinggi. Pepaya Merah Delima dihasilkan dari proses karakterisasi, seleksi, dan hibridisasi. Pepaya ini memiliki banyak keunggulan dibanding pepaya lokal lainnya, seperti rasa, dagingnya yang tebal, warna daging dan berumur genjah.
Pada teknik pembibitan pepaya ada dua cara perbanyakan tanaman yang dilakukan, yaitu: 1) Perbanyakan secara generatif atau biji dan 2) Perbanyakan secara vegetatif atau cangkok. Perbanyakan secara generatif adalah proses perbanyakan yang dilakukan dengan menggunakan salah satu bagian dari tanaman, yaitu biji. Salah satu tujuan perbanyakan tanaman dengan menggunakan biji adalah untuk memperoleh sifat-sifat baik tanaman, seperti akar yang kuat dan tahan penyakit. Sedangkan perbanyakan tanaman secara vegetatif yaitu dilakukan dengan cara cangkok. Tujuan dilakukan perbanyakan secara cangkok karena tanaman memiliki sifat yang sama dengan induknya, tanaman tidak terlalu tinggi dan cepat berbuah, sehingga perbanyakan secara cangkok perlu dikembangkan dan diterapkan dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi pepaya.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM WISNU SINTIA WAHYUNINGTIYAS |
| Department | Agroekoteknologi |
| Uncontrolled Keywords | PERBENIHAN;PEPAYA |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 16 Oct 2026 12:48 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:08 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/20882 |
