TRUNOJOYO-KP-18382-170331100014-Cover.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (385kB)
TRUNOJOYO-KP-18382-170331100014-Bab 1.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (90kB)
TRUNOJOYO-KP-18382-170331100014-Bab 2.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (160kB)
TRUNOJOYO-KP-18382-170331100014-Bab 3.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (92kB)
TRUNOJOYO-KP-18382-170331100014-Bab 4.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (1MB)
TRUNOJOYO-KP-18382-170331100014-Bab 5.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (92kB)
TRUNOJOYO-KP-18382-170331100014-Daftar Pustaka.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (89kB)
TRUNOJOYO-KP-18382-170331100014-Lampiran.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (604kB)
Abstract
Sektor kehutanan menghasilkan produk berupa kayu, bukan kayu (bambu, rotan, gondorukem, terpentin, dan jasa lingkungan. Namun dewasa ini sektor kehutanan mengalami penurunan produk hutan kayu akibat eksploitasi berkepanjangan. Badan Pusat Statistik (2016), Luas area dan jumlah unit pengusahaan hutan menurun pada tahun 2015 sebesar 20,37 juta hektar. Namun penurunan kontribusi industri kehutanan produk kayu diimbangi dengan peningkatan hasil hutan bukan kayu. Oleh karena itu pemerintah harus mengelola sumber daya alam bukan kayu secara bijaksana dan terarah sehingga produk hasil hutan bukan kayu (HHBK) dapat menjadi peluang dalam meningkatkan nilai ekonomis.
Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) menurut Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.35/Menhut-II/2007 adalah hasil hutan baik nabati maupun hewani beserta produk turunan dan budidaya kecuali kayu yang berasal dari hutan. HHBK memiliki kelebihan dari segi pemanfaatannya dibandingkan hasil hutan kayu. Pemanfaatan HHBK tidak menimbulkan kerusakan besar terhadap ekosistem hutan karena sebagian besar pemanenannya tidak dilakukan dengan menebang pohon. HHBK sangat berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut.
Gondorukem dan terpentin adalah jenis HHBK yang berasal dari pengolahan getah pinus yang memiliki prospek yang cerah. Indonesia berada pada urutan kedua setelah Cina dalam memenuhi kebutuhan gondorukem di Pasar Internasional. Produksi gondorukem dinyatakan dalam satuan ton per tahun, tanpa memilah-milah kualitasnya. Periode yang digunakan yaitu 2010 – 2014 (Januari – Desember) sebesar 170.319,69 ton. Gondorukem dan terpentin Indonesia memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan negara lain yaitu lebih tahan panas, lebih lengket, dan beraroma lebih wangi (Lestari et al. 2011).
Kapasitas produksi gondorukem yang ada pada saat ini belum terpakai secara optimal karena kurangnya bahan baku getah, rendahnya mutu bahan baku serta pengolahan yang tidak efisien. Rendahnya kualitas gondorukem dan tepentin dipengaruhi oleh kandungan kotoran dan mineral dalam getah, proses pemasakan,oksidasi asam resin dan sebagainya, yang dapat dilihat dari perubahan warna (Riwayati 2005). Jumlah zat pengotor yang terkandung dalam getah pinus mempengaruhi mutu gondorukem dan kuantitas limbah yang dihasilkan. Hal ini juga berkaitan dengan perlakuan yang kurang tepat pada proses produksi sehingga kandungan getah banyak terbuang sebagai limbah. Berdasarkan permasalahan tersebut, efisiensi produksi perlu dilakukan untuk meminimumkan biaya produksi dan mencapai kondisi nir limbah (zero waste). Pengkajian manajemen pengolahan limbah produksi menjadi salah satu metode untuk mengolah limbah produksi menjadi bahan baku atau produk baru sehingga dapat meminimalkan limbah dari sumber penghasilnya serta meningkatkan nilai ekonomis.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM JUNAIDI |
| Department | Teknologi Industri Pertanian |
| Uncontrolled Keywords | LIMBAH PRODUKSI;GONDORUKEM;TERPENTIN |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 16 Oct 2026 09:58 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:07 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/20149 |
