TRUNOJOYO-KP-27854-200351100055-RIZQI ARVIA PUTRI#200351100055#MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (2MB)
Abstract
Ikan Koi (Cyprinus rubrofuscus) termasuk ikan hias yang banyak diminati
masyarakat di beberapa negara seperti Indonesia, China, Taiwan, Amerika, Rusia,
Kanada dan Singapure. Ikan koi termasuk salah satu ikan hias yang memiliki
kerabat dengan ikan mas serta mempunyai nilai ekonomis tinggi. Ikan Koi
merupakan ikan yang berasal dari Jepang, ikan hias air tawar ini mulai
dikembangbiakkan pada abad 17 di Jepang. Ikan koi diminati masyarakat karena
keindahan warna serta pola yang unik pada bagian punggungnya. Ikan Koi sering
dijadikan hiasan di aquarium maupun kolam yang menjadi konsumsi seni (Andriani
et al., 2019).
Ikan Koi di Indonesia berpotensi besar sebagai komoditas ikan hias unggulan
yang berkembang cepat seperti di beberapa daerah di Jakarta, Blitar, Makasar,
Sukabumi serta Cianjur. Perkembangan yang terjadi disebabkan peningkatan
permintaan pasar, sehingga dengan peningkatan tersebut dapat meningkatkan
kualitas ikan koi local. Peningkatan permintaan pasar di Indonesia terjadi karena
budidaya koi di Jepang kekurangan lahan sehingga menjadi kesempatan bagi
pembudidaya di Indonesia. Budidaya ikan hias memerlukan kualitas serta
kuantitas air yang sesuai sebagai salah satu factor dari berhasilnya proses
budidaya (Kusrini et al., 2015).
Sumber air untuk budidaya ikan biasanya harus sesuai dengan keadaan ikan
yang dibudidayakan. Kondisi air yang akan digunakan dalam budidaya harus
sesuai dengan baku mutu dari parameter tersebut, sehingga ikan dapat
berkembang dengan baik. Kualitas air yang optimal dalam budidaya dapat
mempengaruhi perkembangan serta pertumbuhan ikan dengan maksimal dan
dapat mencegah terpaparnya ikan dari hama dan penyakit. Air yang digunakan
dalam budidaya mudah tercemar oleh berbagai aktivitas, baik dari lingkungan
maupun limbah daratan. Pakan yang diberikan yang biasanya mengandung
protein yang tinggi dapat meningkatkan pencemaran ammonia dalam perairan
yang terjadi karena pengendapan dari sisa pakan (Siegers et al., 2019).
Monitoring kualitas air dapat diketahui dengan melakukan pengecekan
parameter kimia dan fisika. Parameter kimia yang diukur yaitu seperti pH, oksigen
terlarut (DO) dan nitrat. Parameter fisika yang diukur yaitu seperti suhu dan
kecerahan. Monitoring tersebut dapat diukur dengan metode insitu yaitu secara langsung dilokasi penelitian dan eksitu yang dilakukan di laboratorium (Andria &
Rahmaningsih, 2018).
Perubahan kualitas air yang terjadi pada lingkungan suatu organisme
akuatik dapat berpengaruh pada aktivitas ikan serta menyebabkan stress pada
ikan yang berujung kematian. Kualitas air pada suatu kolam harus terkontrol
dengan baik, sehingga pertumbuhan ikan tersebut optimal. Penurunan kualitas air
juga dapat terjadi disebabkan bahan organic seperti feses yang di keluarkan ikan
yang dapat meningkatkan kematian ikan. Tingginya padat tebar juga dapat
mendorong penurunan kualitas air (Fife‐cook Franks, 2021).
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM RIZQI ARVIA PUTRI |
| Department | Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Uncontrolled Keywords | IKAN KOI |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 16 Oct 2026 05:39 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:06 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/19106 |
