TRUNOJOYO-KP-27722-200331100019-Dea Pramudita_200331100019_Laporan PKL.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (2MB)
Abstract
Indonesia secara garis besar perekonomiannya bergerak dari hasil pertanian.
Salah satu industri pertanian yang menjadi sektor terpenting dalam perekonomian
Indonesia adalah gula pasir (Aulia, 2022). Produk gula yang dihasilkan umumnya
menggunakan bahan baku nira tebu, bit gula atau aren. Menurut Majasoka et al.,
(2020) gula pasir merupakan bahan pangan pokok tertinggi atas peminatan
konsumen, hal ini karena kandungan kalori dalam gula yang dapat menjadi alternatif
sumber energi, bahan pengawet yang tidak membahayakan kesehatan pemakainya
dan kecilnya kecenderungan untuk mensubsitusikan gula dengan pemanis lain
(Marpaung et al., 2011.
Terdapat beberapa faktor penyebab meningkatnya impor gula pasir salah
satunya pada tahap proses pengolahan tebu menjadi gula pasir, pada proses
pemerahan nira yang dihasilkan masih memiliki kandungan sukrosa yang cukup tinggi
sehingga menyebabkan tidak optimalnya jumlah gula yang dihasilkan. Faktor lainnya
pada kemunduran kualitas gula pasir yang ditandai dengan ciri gula menggumpal,
gula memiliki warna yang berbeda, gula basah atau jumlah kadar air yang melebihi
standar, dan lain sebagainya. Hal ini merupakan menjadi salah satu faktor penerapan
sanitasi yang kurang diperhatikan saat proses pengolahan gula, sehingga
berpengaruh pada produk yang dihasilkan (Putri dan Mashuri, 2015).
Penerapan sanitasi pada proses pengolahan gula pasir sangat berpengaruh
pada produk yang dihasilkan untuk meningkatkan mutu produk. Adanya cemaran saat
proses pengolahan gula pasir biasanya berasal dari penerapan sanitasi lingkungan
pabrik yang kurang, serta kebersihan diri (personal hygiene) pegawai pabrik
(Sudaryantiningsih dan Pambudi, 2021). Sanitasi dalam industri meliputi kegiatan
sanitasi bahan baku sampai dengan produk akhir dan segala sesuatu yang
berhubungan dengan proses produksi, seperti sanitasi peralatan produksi, sanitasi
pekerja, sanitasi bangunan, serta perlakuan yang berhubungan langsung dengan
bahan. Penerapan sanitasi yang baik serta menjaga kondisi lingkungan dalam industri
agar tetap bersih akan memberikan keuntungan produksi dan meminimalisir
terjadinya kerugian yang akan terjadi (Rohmat et al., 2022)
PG. Rejo Agung Baru ialah industri yang bergerak di bidang produksi olahan
tebu menjadi gula kristal putih dan beberapa limbah yang dapat diolah kembali seperti, pupuk, biogas dan sebagainya. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang industri
pangan, ini termasuk kedalam salah satu perusahaan yang harus memperhatikan
sanitasi industri. Selain itu, industri tersebut memiliki standar mutu yang tinggi dalam
proses produksi gula kristal putih. Pemeliharaan kebersihan fasilitas maupun
lingkungan sangat berpengaruh terhadap kelancaran dan keberhasilan
berlangsungnya proses produksi serta menjadi nilai tambah untuk konsumen jika
kualitas produk baik. Oleh karena itu dengan adanya uraian tersebut, penulis
mengambil topik mengenai penerapan GMP (Good Manufacturing Practice) dan
SSOP (Sanitation Standard Operating Procedure) yang bertujuan untuk mengetahui
penerapan dan evaluasi yang terkait dengan sanitasi industri selama proses
pengolahan gula di unit produksi.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM DEA PRAMUDITA |
| Department | Teknologi Industri Pertanian |
| Uncontrolled Keywords | GMP (Good Manufacturing Practice); SSOP (Sanitation Standard Operating Procedure) |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 16 Oct 2026 04:09 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:05 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/18702 |
