TRUNOJOYO-KP-27692-200351100021-Tarisa Sholikha Wati-200351100021-laporan pkl.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (4MB)
Abstract
Ikan nilem (Osteochilus vittatus) termasuk salah satu komoditas ikan air
tawar yang menjadi produk unggulan yang dikembangkan dalam budidaya
perikanan. Budidaya ikan nilem banyak dikembangkan oleh pembudidaya pada
daerah Sumatera (khususnya Sumatera Barat) dan Priangan (Jawa Barat). Ikan
nilem terkenal memiliki rasa daging dan telur yang sangat gurih, sehingga prospek
pasar ikan nilem tidak hanya menyebar di pasaran lokal saja, tetapi dapat
menembus sampai pasar internasional. Keuntungan budidaya ikan nilem
(Osteochilus vittatus) dari sisi kelestarian lingkungan dapat dilihat dari kebiasaan
makannya yakni, tergolong ikan organik yang berperan sebagai pembersih
kotoran. Setyaningrum et al. (2019), menyatakan bahwa budidaya ikan secara
intensif umumnya terkendala oleh penurunan kualitas air yang disebabkan oleh
penumpukan limbah pada aktivitas budidaya. Sumberdaya ikan nilem yang
cenderung menurun di perairan umum disebabkan oleh masyarakat yang
melakukan penangkapan secara berlebihan. Pemeliharaan ikan nilem umumnya
masih dilakukan secara tradisional, bahkan hanya dijadikan sebagai produk sampingan dari hasil budidaya ikan secara polikultur dengan ikan mas mujaer,
nila dan gurame, sehingga hasil budidaya ikan nilem masih belum optimal
(Ismayadi et al., 2016).
Keberhasilan budidaya ikan nilem (Osteochilus vittatus) memerlukan
ketersediaan benih yang berkualitas baik dalam jumlah cukup secara
berkesinambungan Pemberian pakan yang sesuai nutrisi ikan termasuk faktor
yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan usaha pemeliharaan ikan
secara intensif. Usaha budidaya ikan nilem tidak akan cukup apabila hanya
mengandalkan benih secara alami, karena ikan nilem memijah pada awal musim
penghujan. Menurut Rosmawati et al. (2013), ikan nilem (Osteochilus vittatus)
mempunyai cita rasa yang spesifik dibandingkan ikan tawar lainnya, hal ini
dikarenakan daging ikan nilem mengandung sodium glutamate yang terbentuk
secara alami. Sodium glutamate dalam daging ikan nilem terbentuk karena adanya
pengaruh kebiasaan makan pakan alami plankton terutama ganggang yang
tumbuh akibat pemupukan kolam. Ikan nilem yang memiliki warna coklat kehijauan
paling dominan untuk dibudidayakan, hal ini dikarena ikan nilem yang berwarna
coklat kehijauan memiliki kecepatan laju pertumbuhan yang baik. Ikan nilem
termasuk salah satu ikan yang mudah dipelihara serta memiliki sintasan
reproduksi yang tinggi, sehingga sangat potensial untuk dikembangkan menjadi
produk unggulan budidaya. Potensi lain yang dimiliki ikan nilem sampai saat ini
terdapat pada telurnya yang memiliki cita rasa yang lezat dan memiliki peluang
sebagai komoditas ekspor (Jusmaldi et al., 2020).
Pembenihan ikan nilem (Osteochilus vittatus) dilakukan untuk
menghasilkan kualitas benih ikan yang baik. Pengembangan usaha budidaya ikan
nilem masih belum banyak dibudidayakan oleh petani ikan. Tingkat kelangsungan
hidup pada pembenihan ikan nilem dapat mencapai 80-90%, hal ini sesuai dengan
pernyataan Syamsuri et al. (2017), bawa keberadaan populasi ikan nilem di
perairan umum semakin menurun, sehingga pembenihan ikan nilem perlu
dikembangkan untuk menjaga pupulasinya. Penebaran hasil pembenihan ikan
nilem di habitat alaminya seperti sungai masih tidak dapat meningkatkan jumlah
populasinya, hal ini disebabkan adanya kerusakan pada lingkungan perairannya
akibat faktor alami ataupun antropogenik. Setiawan et al. (2017), menyatakan
bahwa menurunnya populasi ikan nilem pada perairan umum disebabkan oleh
aktivitas penangkapan ikan yang tidak seleksif terhadap ukuran, alat tangkap, serta terdapat sedimentasi perairan. Upaya yang dapat menjamin populasi ikan
nilem di masa yang mendatang yakni dengan melakukan langkah-langkah serta
strategi perlindungan populasi ikan nilem yang diterapkan oleh pembudidaya.
Salah satu langkah yang dapat diterapkan adalah dengan mengembangkan
kegiatan budidaya ikan nilem melalui pembenihan, pendederan, pembesaran, dan
perlindungan ikan nilem pada habitat alaminya yakni perairan umum. Budidaya
ikan nilem secara intensif umumnya memiliki kendala pada penurunan kualitas air
yang disebabkan oleh penumpukan limbah yang dihasilkan pada aktivitas
budidaya, sehingga peningkatan produksi budidaya ikan harus diimbangi dengan
pengelolaan kualitas air (Setyaningrum et al., 2019).
Teknik pembenihan ikan nilem (Osteochilus vittatus) perlu dikembangkan
untuk menghasilkan produksi benih ikan yang berkualitas serta kualitas induk yang
dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang. Benih ikan yang memiliki kualitas baik
akan tumbuh dengan cepat serta tahan terhadap serangan penyakit sehingga
tingkat kematian benih ikan nilem (Osteochilus vittatus) menurun. Manajemen
budidaya kolam dimulai dengan menyiapkan kolam sebelum proses pemijahan.
Teknik pembenihan diawali dengan persiapan kolam, seleksi induk, proses
pemijahan, pemeliharaan telur, dan pendederan atau pembesaran. Upaya yang
dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi ikan yaitu melalui budidaya secara
intensif yang dilakukan padai kegiatan Praktik Kerja Lapang (PKL) di UPT
Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Umbulan, Pasuruan. dalam
melestarikan produksi ikan asli Indonesia dalam memenuhi jumlah populasi ikan
agar seimbang. Upaya pengembangan produksi ikan nilem dapat dilakukan
dengan menjaga kelestariannya melalui pengembangan kegiatan budidaya.
Perkembangan teknologi reproduksi dalam usaha budidaya perikanan sangat
dibutuhkan, khususnya dalam pengadaan benih berkualitas unggul untuk
meningkatkan jumlah produktivitas ikan nilem (Hidayati et al., 2015).
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM TARISA SHOLIKHA WATI |
| Department | Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Uncontrolled Keywords | IKAN NILEM |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 16 Oct 2026 03:59 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:05 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/18644 |
