TRUNOJOYO-KP-27676-200311100065-200311100065_Adil Sujatmiko_Laporan PKL .pdf
Restricted to Repository staff only
Download (7MB)
Abstract
Indonesia merupakan salah satu negara tropis yang dapat ditanamai tanaman
sayuran dengan subur, salah satu tanaman yang dapat tumbuh subur adalah terong ungu
(Solanum melongena L) (Rukmana 1994). Tanaman terong ungu (Solanum melongena
L) merupakan tanaman yang potensial untuk dikembangkan dan bernilai ekonomis di
Indonesia (Kahar et al. 2016). Pada tahun 2019 produksi terong mencapai 575,393 ton,
pada tahun 2020 mencapai 575,392 ton dan pada tahun 2021 meningkat sampai
676,339 ton (BPS 2022).
Produksi yang terus meningkat setiap tahunnya diperlukan juga usaha untuk
menjaga kualitas tanaman terong, untuk menjaga kualitas tanaman terong didapatkan
melalui proses penyerbukan (Anto 2019). Namun proses ini seringkali menemui
kendala, yaitu dari morfologi bunga terong itu sendiri. Salah satu fenomena yang ada
adalah heterostyly yang dapat menurunkan potensi hasil dari tanaman tersebut.
Heterostyly ialah tanaman yang mempunyai tangkai putik (stylus) lebih panjang
daripada tangkai sari sehingga polen tidak dapat menempel pada kepala putik, maka
dalam penyerbukan memerlukan bantuan angin dan juga serangga (Kowalska 2006).
Permasalahan yang lain adalah kemandulan bunga jantan yaitu ketidakmampuan
tanaman untuk menghasilkan serbuk sari fungsional (Topino. et al. 2011). Salah satu
hal yang dapat untuk mengurangi permasalahan tersebut yaitu dengan cara polinasi
buatan.
Polinasi memiliki manfaat sebagai produksi buah dan biji, bermanfaat sebagi
biodiversity (keanekaragaman hayati) polinasi dapat digunakan untuk persilangan
sehingga dapat menciptakan keturunan yang beragam secara genetik, yang dapat lebih
beradaptasi pada lingkungan yang berbeda, memiliki manfaat juga sebagai food security
(ketahanan pangan) beberapa tanaman memerlukan polinasi sehingga dapat
menghasilkan buah ataupun hasil, polinasi juga bermanfaat dalam bidang ekonomi
karena polinasi dapat meningkatkan hasil produksi secara signifikan (Brezee. et al 2015).
Polinasi dapat berfungsi untuk reproduksi sehingga dapat menjaga keturunan
tanaman. Tumbuhan yang melakukan penyerbukan silang adalah untuk mendapatkan keturunan yang mempunyai komponen genetik yang sama dengan tetuanya. Keturunan
tumbuhan yang melakukan penyerbukan silang biasanya akan mengalami penurunan
baik dalam hal penampilan dan hasil dibanding tetuanya (Hallauer et al. 2010).
Penyerbukan (pollination) adalah peristiwa jatuhnya serbuk sari ke kepala putik
(Oz et al. 2009). Polinasi buatan dapat meningkatkan produktivitas tanaman terong,
sehingga pada tanaman terong yang memiliki produktivitas tinggi dapat memenuhi
penyediaan benih hibrida (Yanik et al. 2017). Dari uraian di atas penulis mengambil
topik polinasi pada tanaman terong ungu untuk memahami proses polinasi tanaman
terong ungu.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM ADIL SUJATMIKO |
| Department | Agroekoteknologi |
| Uncontrolled Keywords | TERONG |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 16 Oct 2026 03:52 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:05 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/18607 |
