TEKNIK PERAWATAN TANAMAN BUNCIS (Phaseolus vulgaris L.) UNTUK BENIH DI PT. WIRA AGRO NUSANTARA SEJAHTERA, KEDIRI

MOH TOHIR ROMLI (2023) TEKNIK PERAWATAN TANAMAN BUNCIS (Phaseolus vulgaris L.) UNTUK BENIH DI PT. WIRA AGRO NUSANTARA SEJAHTERA, KEDIRI. S1 thesis, Universitas Trunojoyo Madura.
[thumbnail of TRUNOJOYO-KP-27674-200311100061-moh tohir pkl.pdf] PDF
TRUNOJOYO-KP-27674-200311100061-moh tohir pkl.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (37MB)

Abstract

Buncis (Phaseolus vulgaris L.) merupkan salah satu komoditas pertanian
yang mempunyai posisi penting dalam hortikultura. Hortokultura dipandang
sebagai produk pertanian yang masih mempunyai potensi untuk dikembangkan.
Upaya peningkatan produksi buncis sebagai salah satu komoditas hortikultura di
Indonesia perlu dilakukan secara intensif agar dapat memenuhi kebutuhan gizi
dan konsumen bagi masyarakat peningkatan produksi dapat di wujudkan melalui
teknik budidaya yang tepat, pengaturan populasi tanaman dan pemilihan varietas
yang tepat dan sesuai dangan lingkungannya agar hasil yang diperoleh lebih
optimal (Fajriah et al. 2018).
Buncis adalah salah satu jenis tanaman yang memiliki banyak sekali
manfaat. Sebagai bahan sayuran, polong buncis dapat di komsumsi dalam ke
adaan muda. Menurut Cahyo (2007), dalam 100 g buah buncis segar mengandung
Energy 35 kal, Protein 2,4 g, Lemak 0,2 g, Karbohidrat 7,7 g, Kalsium 6,5 g,
Fosfot 4,4 g, Serat 1,2 g, Besi 1,1 g, Vitamin (A 630 SI, B1 0,08 mg, B3 0,7 mg,
C 19,0 mg), dan Air 89 g, yang sangat berpengaruh besar terhadap kualitas
kesehatan masyarakat.
Produksi buncis di Indonesia mengalamai penurunan berdasarkan data
produksi tahun 2018-2020 diketahui 2018 produksi buncis mencapai 304,445,00
ton. Tahun 2019 mengalami penurunan 5.134 ton menjadi 299.311,00 ton dan di
tahun 2020 kembali produksi buncis mengalami peningkatan menjadi 305.923 ton
(BPS 2021). Penurunan produksi buncis dapat dipengaruhi beberapa hal, antara
lain serangan hama dan penyakit tanaman. Hawar daun bakteri (Common
bacterial blight) merupakan salah satu peyakit tular benih yang disebabkan oleh
bakteri Xanthomonas axonopodis pv. phaseoli dan merupakan salah satu masalah
utama pada pertanaman buncis di dunia.
Bakteri menginfeksi daun, polong dan biji dari buncis mengakibatkan
tanaman mengalami nekrosis setelah sekian lama dan akhirnya mati. Sedangkan
rendahnya produksi perhektar tanaman kacang buncis di Indonesia dikarenakan
pengaruh benih unggul yang belum merata dan teknik perawatan yang belum optimal. Untuk dapat tumbuh secara optimal maka tanaman buncis membutuhkan
tanah yang subur dan gembur (Andosol dan Regosol) dengan pH 5,0 – 6,0
(Wahyudi 2011).
Tanaman Buncis tergolong dalam jenis sayuran semusim yang dapat
dipanen berkali-kali. Tanaman buncis dapat tumbuh di dataran tinggi hingga
dataran rendah. Perawatan tanaman buncis terdapat beberapa hal yang harus
dilaksanakan yaitu pengairan, penyulaman, pemasangan ajir, pemasangan tali
gawar, penyiangan, perambatan, pemupukan dan pengendalian penyakit tanaman.
Pengairan pada tahap awal dilakukan setiap sore sampai benih tumbuh.
Sedangkan pada tahap selanjunya pengairan disesuaikan dangan kondisi lahan
pertanaman dan kondisi tanaman. Penyulaman dilakukan ketika ada benih yang
rusak atau tidak tumbuh, saat tanaman berumur 7 10 HST. Tujuan penyulaman
agar jumlah tanaman persatuan luas tetap optimum. Pemasangan ajir dan tali
gawar dilakukan secara bersamaan ketika tanaman tumbuh sekitar 15 21 cm.
Jarak ajir dengan tanaman sekitar 5 – 8 cm. Sedangkan Pemasangan tali gawar
mempunyai 2 tingkat dangan jarak 30 cm, antara tali yang di bawah dan atas.
Penyiangan dilakukan dengan cara mencabut gulma dengan tangan atau
menggunakan alat. Perambatan dilakukan ketika tanaman memiliki cabang dan
bunga yang banyak. Sehingga mempunyai potensi hasil yang lebih besar.
Pemupukan menggunakan pupuk organik seperti pupuk kendang ayam dan pupuk
majemuk NPK 15 – 15 – 15. Pemupukan awal dilakukan pada umur 15 – 25 HST,
pemupukan ke dua di lakukan pada umur 35-45 HST. Pengendalian hama
penyakit pada tanaman buncis dapat dilakukan secara mekanis dan kimiawi.
Tanaman yang terserang penyakit, pertumbuhan dan hasil produksinya akan
menurun.

Item Type Thesis (Skripsi)
Thesis Type S1
Creators
Creators
NIM
MOH TOHIR ROMLI
Department Agroekoteknologi
Uncontrolled Keywords BUNCIS
Divisions Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi
Additional Information elib mass import
Depositing User Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id
Date Deposited 16 Oct 2026 03:52
Last Modified 24 Oct 2026 17:05
URI https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/18604

Actions (login required)

View Item
View Item