TRUNOJOYO-KP-27650-200331100081-Helmi Reyza Nazari_200331100081_Laporan PKL.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (1MB)
Abstract
Kopi bukan asli kepulauan Indonesia. Pada akhir abad ke-16, ketika
Indonesia masih berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda, VOC membawa
tanaman kopi arabika ke negara tersebut. Mereka tertarik untuk mematahkan
monopoli Arab dalam perdagangan kopi global. Pemerintah kolonial Belanda
pertama kali menanam bibit kopi di sekitar Batavia (Jakarta) hingga ke Sukabumi
dan Bogor. Kemudian karena permintaan pasar yang meningkat, perkebunan kopi
mulai didirikan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan beberapa daerah di
Sumatera dan Sulawesi (Gumulya dan Helmi, 2017).
Kopi merupakan komoditas pertanian yang paling akrab di telinga
masyarakat baik dari kalangan menengah atas maupun kalangan menengah
bawah. Kopi merupakan salah satu komoditas tanaman yang bersamaan dengan
tanaman perkebunan lainnya dengan memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan
berperan penting sebagai sumber mata uang negara (Risandewi, 2018). Provinsi
Jawa Timur merupakan daerah dengan luas tanam kopi terbesar dibandingkan
dengan daerah lain di pulau jawa. Pada tahun 2014, luas perkebunan kopi
mencapai 1.230.495 hektar dan dihasilkan kopi beras sebanyak 643.857 ton.
Ekspor kopi Indonesia mencapai 384.815 ton dengan nilai US$1.039.340.705.
Perkebunan kopi Indonesia mayoritas (96,19%) merupakan perkebunan rakyat
(PR) yang dikelola oleh 1.765.401 petani, sedangkan sebagian kecil dikelola oleh
perkebunan pemerintah dan swasta. Tanaman kopi yang paling banyak ditanam
adalah tanaman jenis kopi robusta, sekitar 73,13%, dan sisanya adalah kopi
arabika (Bengkulu et al., 2017).
Mutu kopi sangat tergantung pada bagaimana penanganannya selama dan
setelah panen. Kopi dengan umur yang tua dan berwarna merah pada saat masa
petik merupakan kopi yang berkualitas tinggi. Kopi yang belum merah tetapi sudah
dipetik mengurangi aroma dan rasa karena buah kopi belum matang sempurna
(Gumulya Helmi, 2017).
Pengendalian mutu proses produksi biji kopi robusta sangat penting untuk
memastikan kualitas biji kopi yang dihasilkan. Berikut adalah beberapa urgensi
pengendalian mutu proses produksi biji kopi robusta: memastikan kualitas biji kopi
yang dihasilkan. Meningkatkan kualitas biji kopi petani dengan jenis kopi yang
baik. Mempercepat proses difusi air sehingga aman disimpan dan tetap memiliki
mutu yang baik sampai tahap proses pengolahan. Menentukan kemampuan proses berdasarkan keluaran mutu pada setiap tahapan proses pengolahan biji
kopi robusta (Isyariansyah et al., 2018).
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM HELMI REYZA NAZARI |
| Department | Teknologi Industri Pertanian |
| Uncontrolled Keywords | KOPI |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 16 Oct 2026 03:42 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:05 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/18553 |
