TRUNOJOYO-KP-27600-200341100080-rizky.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (18MB)
Abstract
Echosounder banyak digunakan untuk mengukur batimetri di perairan
dangkal dan perairan dalam. Terdapat beberapa jenis echosounder antara lain
adalah single-beam dan multi-beam. Sinyal akustik dari echosounder single-
beam menggunakan pengeras suara gema tunggal sementara multi-beam
menggunakan pancaran dalam bentuk area. Intensitas dan bentuk sinyal pantul
akan diterima oleh receiver melalui perhitungan waktu jarak tempuh dan
memberikan informasi tentang gambaran dasar laut (Amiri et al., 2011).
Echosounder single-beam memiliki keunggulan yaitu murah dan juga tersedia
lebih banyak pada seluruh kapal survei. Echosounder single-beam memberikan
informasi dasar laut secara garis trek sesuai degan lintasan survei, semakin
dekat garis survei maka semakin detil dan bagus data yang diperoleh
(Satyanarayana et al., 2007).
Peta batimetri memberikan informasi tentang elevasi keadaan dasar laut.
Batimetri adalah ukuran, gambaran dan struktur panjang dasar laut yang sering
digunakan untuk menentukan jalur pelayaran untuk kapal. Teknologi pemetaan
batimetri yang sering digunakan adalah dengan memanfaatkan akustik
gelombang suara (Febrianto et al., 2015). Pengambilan data batimetri adalah
menggunakan survei hidrografi. Tujuan dari survei hidrografi adalah mengukur
kedalaman badan air dari permukaan air untuk menghasilkan struktur gambaran
permukaan tanah melalui pengukuran akustik dan sonar. Survei Batimetri dapat
menghasilkan peta navigasi, informasi dasar laut untuk konstruksi laut, eksplorasi
dan pengeboran minyak lepas pantai, dan deteksi pipa bawah laut (Nugroho et
al., 2022).
Pendangkalan pada kolom perairan laut terbentuk melalui proses pelayaran
ke arah laut lepas yang tidak diimbangi dengan penanganan terhadap faktor
oseanografinya. Proses sedimentasi terjadi karena faktor oseanografi seperti
kecepatan dan arah arus, gelombang dan juga pasang surut (Satriadi, 2012).
Pengerukan merupakan penggalian volume sedimen dibawah permukaan air.
Tujuan dari pengerukan sedimen pada Pelabuhan adalah memperdalam dasar
laut dan pemeliharaan alur pelayaran. Pendangkalan pada kolom Pelabuhan
juga dipengaruhi aktivitas manusia seperti pembangunan. Kolom Pelabuhan yang mengalami pendangakalan memerlukan pengerukan sedimentasi untuk
jalannya sebuah alur pelayaran. (Josep, 2019).
Pelabuhan PLTU 1&2 Nagan Raya terletak di Jalan Meulaboh Tapaktuan,
Suak Puntong, Nagan Raya Regency, Aceh. Lokasi tersebut adalah lokasi
penelitian batimetri yang kemudian akan dianalisis untuk ditentukan apakah
lokasi tersebut memenuhi syarat untuk menjadi pelabuhan angkutan batu bara
PLTU Nagan Raya 1&2. Terpilihnya lokasi tersebut untuk dianalisa dilatar
belakangi akan dibangunnya PLTU baru yaitu PLTU Nagan Raya 3&4.
Pembangunan PLTU yang baru membutuhkan kolom perairan yang dalam untuk
bersandarnya kapal tongkang batu bara yang lebih besar. Pendangkalan pada
kolom Pelabuhan PLTU Nagan Raya diprediksi karena perubahan kawasan
pesisir akibat pembangunan PLTU yang baru dan juga proses pendangkalan
erosi bibir pantai karena aktivitas pelayaran dan arus laut yang membawa
sedimentasi.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM RIZKY AFFANDI |
| Department | Kelautan |
| Uncontrolled Keywords | PELABUHAN |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Ilmu Kelautan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 16 Oct 2026 03:23 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:05 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/18447 |
