PENGOLAHAN DATA MULTIBEAM ECHOSOUNDER MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK CARIS HIPS and SIPS 10.4 (STUDI KASUS : PERAIRAN PULAU JEMUR, RIAU)

TRIO ARDIANSYAH (2023) PENGOLAHAN DATA MULTIBEAM ECHOSOUNDER MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK CARIS HIPS and SIPS 10.4 (STUDI KASUS : PERAIRAN PULAU JEMUR, RIAU). S1 thesis, Universitas Trunojoyo Madura.
[thumbnail of TRUNOJOYO-KP-27575-200341100046-Trio Ardiansyah_200341100046_Laporan PKL.pdf] PDF
TRUNOJOYO-KP-27575-200341100046-Trio Ardiansyah_200341100046_Laporan PKL.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (11MB)

Abstract

Salah satu cara untuk pengambilan data batimetri yaitu survei hidrografi.
Hidrografi merupakan ilmu yang mempelajari penggambaran dan pengukuran
beberapa parameter yang digunakan untuk mendefinisikan sifat-sifat dan
konfigurasi dasar perairan dengan benar, karakteristik dan dinamika lautan, serta
hubungan geografis antara laut dengan daratan. Dalam kata lain hidrografi
merupakan cabang ilmu yang berfokus pada pengukuran untuk mendeskripsikan
sifat juga pola badan air, serta dinamikanya. Penggunaan instrumen dalam
pengambilan data hidrografi sangatlah penting untuk memastikan keakuratan data
yang didapatkan. Multibeam Echosounder merupakan salah satu dari berbagai
instrument yang paling sering dipakai dalam survei hidrografi (Sukariyani, 2018).
Multibeam Echosounder (MBES) merupakan alat yang memiliki fungsi untuk
pengambilan data pemeruman di suatu perairan dalam survei hidrografi.
Multibeam Echosounder merupakan pengembangan dari alat Singlebeam
Echosounder, pada prinsip kerjanya dikatakan sama akan tetapi yang
membedakan adalah pancaran dalam sekali pengambilan data. Dalam satu kali
pengambilan data multibeam echosounder dapat memancarkan beberapa
gelombang sonar sedangkan dalam satu kali pengambilan data singlebeam
echosounder hanya dapat memancarkan satu gelombang sonar saja. Prinsip
pengoperasian dari Multibeam Echosounder adalah transmitter pada transducer
akan mengeluarkan gelombang suara dengan cara tegak lurus ke dasar air
menggunakan nilai frekuensi tertentu, lalu gelombang suara akan direfleksikan
kembali dan diterima oleh receiver. Data yang akan diperoleh dari proses
pemeruman merupakan data interval dari gelombang yang dipancarkan hingga
gelombang diterima kembali, dari proses pemeruman yang sudah dilakukan maka
nilai kedalaman dasar perairan akan diperoleh (Yosep Wiratama et al., 2021).
Secara geografis Pulau Jemur adalah Kawasan perbatasan antarnegara
Indonesia dan Malaysia yang hanya dibedakan oleh Selat Malaka. Pulau Jemur
sendiri merupakan salah satu pulau yang mempunyai potensi besar dalam hal
pariwisata dan hasil laut serta terumbu karang bagi Indonesia khususnya daerah
Riau. Dikarenakan letak Pulau Jemur yang stategis yaitu terdapat pada Selat
Malaka maka pulau ini memiliki potensi besar terhadap perkembangan
perdangangan internasional. Memiliki potensi sebagai perkembangan perdagangan internasional menjadikan lalu lintas laut Pulau Jemur sebagai salah
satu perairan yang ramai digunakan sebagai kegiatan pelayaran (Desriani Rani,
2014).
Keamanan dan keselamatan dari navigasi pelayaran adalah salah satu faktor
yang benar-benar harus diperhatikan agar dapat mendukung lancarnya lalu lintas
laut dan menghalau jika terjadi kecelakaan di laut. Dilakukannya keamanan dan
keselamatan dengan cara penandaan navigasi pelayaran di area yang terdapat
bahaya navigasi, hal tersebut guna untuk mempermudah kapal dalam hal olah
gerak (Asmoro et al., 2022). Salah satu faktor yang menjadi penyebab bahaya dari
keselamatan navigasi adalah kurangnya informasi mengenai kedalaman suatu
wilayah perairan, maka dari itu pemahaman mengenai batimetri sangatlah
diperlukan untuk mengetahui informasi tentang kedalaman di suatu perairan.
Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut (PUSHIDROSAL) memiliki tugas
untuk melaksanakan survei untuk kajian pemetaan Hidro-Oseanografi militer
maupun nasional survei tersebut melingkupi, penelitian, pemetaan laut publikasi,
penerapan lingkungan laut, dan keselamatan navigasi pelayaran. Dalam tugas
mementingkan keselamatan maritim, Pushidrosal memiliki kewenangan dan
legalitas tunggal dalam bidang hidrografi untuk menyediakan data serta informasi
Hidro-Oseanografi berupa peta laut baik peta kertas maupun peta navigasi
elektronik dan publikasi nautika (Pushidrosal, 2018). Dapat disimpulkan bahwa
instansi ini memiliki kewenangan atas informasi mengenai fenomena dibawah laut,
peta batimetri, dan pembuatan peraturan atau rancangan navigasi pelayaran
sebagai acuan keselamatan pelayaran.

Item Type Thesis (Skripsi)
Thesis Type S1
Creators
Creators
NIM
TRIO ARDIANSYAH
Department Kelautan
Uncontrolled Keywords PULAU JEMUR RIAU
Divisions Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Ilmu Kelautan
Additional Information elib mass import
Depositing User Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id
Date Deposited 16 Oct 2026 03:16
Last Modified 24 Oct 2026 17:05
URI https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/18401

Actions (login required)

View Item
View Item