TRUNOJOYO-KP-27525-200311100106-SAFIRNA SITI SOLIKHA_200311100106_LAPORAN PKL.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (12MB)
Abstract
Mentimun (Cucumis sativus L.) merupakan tanaman merambat jenis sayuran
yang berasal dari family labu – labuan (Cucurbitaceae). Tanaman mentimun
banyak dibudidayakan di dataran rendah. Mentimun umumnya digemari
masyarakat Indonesia. Mentimun dapat dikonsumsi secara langsung maupun dalam
bentuk olahan. Menurut Sumpena (2001) dalam Dewi (2016) gizi mentimun cukup
baik karena sayuran buah ini merupakan sumber vitamin dan mineral. Kandungan
gizi per 100 g mentimun adalah 15 kalori, protein 0,8 g, pati 0,1 g, karbohidrat 3 g,
fosfor 30 mg, besi 0,5 mg, theanin 0,02 mg, riboflavin 0,01 mg, natrium 5 mg,
niacin 0,10 mg, abu 0,40 g, asam 14 mg, vitamin A 0,045 IU, vitamin B1 0,3 IU
dan vitamin B2 0,2 IU.
Konsumsi mentimun yang terus meningkat menjadikan permintaan pasar
akan mentimun juga terus meningkat. Namun, produksi mentimun di Indonesia
setiap tahunnya berada pada kondisi yang tidak stabil. Produksi mentimun di
Indonesia pada tahun 2017 mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Produksi
mentimun pada tahun 2016 mencapai 430.218 ton. Namun, pada tahun 2017
mengalami penurunan drastis yakni dari 430.218 ton menjadi 424.917 ton (Badan
Pusat Statistik, 2021). Produktivitas tanaman mentimun yang rendah dapat
disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain genetik, faktor lingkungan atau iklim,
teknik budidaya seperti pengolahan tanah, dan perawatan tanaman seperti
pemupukan, pengairan, penyiangan, dan pengendalian hama penyakit serta
penggunaan benih yang rendah (Khairunnisa et al., 2019).
Menurut Khamid et al., (2019) keberhasilan produksi mentimun dapat
ditentukan oleh dua faktor utama, yaitu pengelolaan optimal terhadap tanah dan
tanaman serta penggunaan benih unggul bermutu. Mutu fisik dan fisiologis yang
tinggi dapat diperoleh dengan penanganan pra dan pascapanen yang baik meliputi:
teknik bercocok tanam, pengendalian hama dan penyakit, pengendalian gulma,
waktu panen, cara panen, processing dan penyimpanan benih. Mutu fisiologis benih
merupakan interaksi antara faktor genetik dengan lingkungan tumbuh dimana benih
dihasilkan (Umar, 2012). Panen adalah pemetikan hasil budidaya dan merupakan kegiatan akhir dari
siklus budidaya, sedangkan pascapanen adalah pengolahan hasil panen segera
setelah panen. Kegiatan panen dan pascapanen ini keduanya saling berhubungan
erat untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Kriteria panen dapat dilihat dengan
berbagai cara, antara lain secara visual, fisik, komputasional (menghitung umur
tanaman), bahkan kimiawi. Tahapan pasca panen melalui beberapa tahap yaitu
ekstraksi biji, fermentasi, pencucian, pengeringan dan sortasi.
Berdasarkan uraian diatas, maka perlu diketahui tentang aktivitas panen dan
pascapanen pada tanaman mentimun untuk memperoleh produksi benih yang
berkualitas dan memiliki mutu tinggi serta menekan kemunduran mutu benih
selama pengolahan benih berlangsung. Oleh karena itu, dalam rangka memperoleh
pengetahuan dan pengalaman mengenai produksi benih mentimun khususnya
panen dan pengelolaan pascapanen, maka dilakukan Praktik Kerja Lapang di PT
BISI Farm Kencong Kediri, Jawa Timur, badan usaha yang beraktivitas pada
produksi benih.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM SAFIRNA SITI SOLIKHA |
| Department | Agroekoteknologi |
| Uncontrolled Keywords | MENTIMUN |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 16 Oct 2026 03:01 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:05 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/18310 |
