TRUNOJOYO-KP-27507-200341100088-Muh. Izzul Ihza BayuD.R_200341100088_Laporan PKL.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (7MB)
Abstract
Penyu adalah reptil penghuni laut yang mampu bermigrasi jarak jauh di
sepanjang Samudera Hindia, Samudera Pasifik dan Asia Tenggara. Status
populasi penyu saat ini sedang mengalami penurunan, dan kelangsungan
hidupnya telah lama terancam oleh faktor alam dan ulah manusia yang secara
langsung maupun tidak langsung membahayakan populasinya. Perusakan dan
kematian habitat pesisir karena interaksi dengan aktivitas manusia, penyebaran
penyakit, pemanenan penyu dan telur yang tidak terkendali yang merupakan faktor
penurunan penyu. Penyu merupakan salah satu makhluk yang menghabiskan
seluruh hidupnya di lautan, dan penyu di Indonesia semakin terancam punah, baik
dari alam maupun ulah manusia(Hardiono et al., 2012).
Kehidupan penyu saat ini terancam punah karena jumlah penyu semakin
berkurang akibat pembantaian penyu dan pengambilan telur secara ilegal.
Budidaya penyu sangat efisien untuk menjaga konsistensi populasi penyu yang
terancam punah. Inovasi budidaya penyu di Indonesia menjanjikan peningkatan
jumlah penyu dewasa sehingga semua orang dapat menikmati keindahan hewan
purba yang masih ada tersebut.(Hanipa et al., 2018). Menurut Abang et al., (2015)
menyatakan bahwa Penyebab penurunan jumlah penyu terbagi menjadi dua faktor
besar, yaitu faktor alam dan faktor manusia. Faktor alam berhubungan dengan
perubahan lingkungan yang terjadi secara alami seperti Abrasi pantai, perubahan
suhu pasir, penyakit dan predator. Faktor antropogenik merupakan ancaman yang
terkait dengan aktivitas manusia, salah satunya pemanfaatan habitat pantai untuk
bertelur dan pemanfaatan spesies penyu, seperti pemanfaatan penyu dan telur
penyu serta interaksi dengan kegiatan penangkapan ikan. Salah satu kawasan
yang dilakukan kegiatan konservasi penyu di Jawa Timur adalah kawasan
Trenggalek.
Kabupaten Trenggalek merupakan salah satu daerah dengan garis pantai
yang relatif panjang. Selain itu, kawasan pesisir Trenggalek merupakan rumah
bagi banyak penyu yang bermigrasi dan berkembang biak di sepanjang pantai.
Pesisir Trenggalek yang merupakan daerah migrasi juga memiliki jumlah tempat
peneluran penyu terbesar yaitu Pantai Taman Kili – Kili. Semula berada di pesisir
pantai Taman Kili – Kili, sebelum dibangunnya penangkaran penyu pada bulan
Mei-Agustus lalu, masyarakat Desa Wonocoyo yaitu warga Dusun Bendogolori yang tinggal di sekitar pantai sering menjumpai penyu bertelur di kawasan
tersebut. . Penduduk setempat menyebutnya "Pasiran". Sering terdapat empat (4)
jenis penyu (Pasiran) di Taman Kili-Kili. termasuk penyu hijau, penyu sisik, penyu
abu-abu/belatung dan penyu belimbing.
Pentingnya informasi terkait teknik pembesaran penyu dilakukan dilokasi
Taman Kili-kili ini dibutuhkan untuk menggambarkan kondisi penyu yang bisa
dilakukan pembesaran di lokasi tersebut. Informasi ini dapat dijadikan sebagai
informasi awal untuk memberikan edukasi kepada masyarakat pentingnya
pembesaran penyu lekang yang sudah masuk kategori hampir punah di Indonesia.
Hal inilah yang melatar belakangi kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) ini
dilakukan. Kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) ini diharapkan dapat memberikan
kontribusi nyata untuk perlindungan di konservasi penyu lekang di area Jawa
Timur khusunya di Taman Kili-kili kabupaten Trenggalek.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM MUHAMMAD IZZUL IHZA BAYU DWI ROMADHONI |
| Department | Kelautan |
| Uncontrolled Keywords | PENYU LEKANG |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Ilmu Kelautan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 16 Oct 2026 02:56 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:05 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/18276 |
