TRUNOJOYO-KP-27437-200341100065-200341100065_SHINTA BELLA BERLINA_LAPORAN PKL.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (6MB)
Abstract
Udang vanname (Litopenaeus vannamei) termasuk komoditas perikanan
yang bernilai ekonomis cukup tinggi. Udang vanname awal mula ditemukan di
pantai bagian Barat Pasifik Amerika Latin yaitu di wilayah Peru bagian selatan
sampai utara Meksiko (Purnamasari et al., 2017). Udang vannamei (Litopenaeus
vannamei) memiliki permintaan yang cukup tinggi baik diluar maupun didalam
negeri (Ghufron et al., 2017). Udang jenis vanname banyak dibudidayakan karena
memiliki profit dan prospek yang menjanjikan (Arsad et al., 2017). Hal ini yang
dapat menjadi pemicu semakin meningkat kegiatan budidaya udang di Indonesia.
Keunggulan dari udang vanname (Litopenaeus vannamei) diantaranya
adalah memiliki kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit, waktu
pemeliharaan yang lebih cepat, tingkat keberlangsungan hidup yang tinggi, dapat
dibudidayakan dengan jumlah padat tebar mencapai 150 ekor m2
, dan memiliki
kandungan protein yang tinggi (Iskandar et al., 2022). Udang vanname termasuk
bahan pangan dengan kandungan protein yang tinggi dan harga yang murah,
sehingga mampu mendorong masyarakat mengkonsumsi udang vanname untuk
pemenuhan gizi (Sa’adah dan Khiqotul, 2019). Kulit udang sering dimanfaatkan
sebagai bahan pembuatan kitin dan kitosan, salah satu contoh pemanfaatan
kitosan dari kulit udang yaitu pembuatan edible coating (Wulandari et al., 2015).
Udang vannamei selain memiliki keunggulan namun juga memiliki potensi
kegagalan dalam melakukan kegiatan budidaya.
Permasalahan yang sering ditemukan saat kegiatan budidaya udang salah
satunya adalah buruknya kualitas perairan tambak. Penurunan kualitas air tambak
dapat menyebabkan stress dan mudah terjangkit penyakit terhadap udang
sehingga mengalami kegagalan dalam kegiatan budidaya (Supono, 2017). Resiko
yang menjadi ancaman bagi pembudidaya udang vannamei yaitu cuaca, iklim,
hama dan penyakit yang terdapat di lokasi tambak sehingga dapat berpotensi
kegagalan pada kegiatan budidaya udang. Penyakit yang sering ditemukan pada
budidaya udang yaitu WFD (White feces disease) merupakan penyakit yang
menyerang sistem pencernaan udang, penyakit WFD tersebut dapat
menyebabkan resiko kegagalan panen (Putri et al., 2020). Pencegahan penyakit
dan hama dapat dilakukan dengan menggunakan biosecurity yang berupa
peralatan maupun perlengkapan yang mampu untuk mencegah masuknya hama maupun penyakit di sekitar tambak (Muzahar, 2020). Salah satu kegiatan produksi
udang di Indonesia dilakukan dengan menggunakan metode intensif.
Kegiatan budidaya udang vanname terdapat dua metode yaitu intensif dan
semi intensif. Budidaya udang vanname di IBAP Probolinggo menggunakan
sistem intensif. Sistem budidaya intensif termasuk salah satu sistem budidaya
udang dengan penebaran benih yang tinggi, dan memanfaatkan pakan alami serta
pakan tambahan (Yunarty et al., 2022). Tambak intensif merupakan tambak yang
dilengkapi dengan plastik mulsa untuk menutupi pompa air, kincir air, aerator serta
memiliki tingkat penebaran benur antara 100-300 ekor/m2 (Purnamasari et al.,
2017). Hal ini yang melatarbelakangi kegiatan praktik kerja lapang dengan judul
teknik pembesaran udang vanname (Litopenaeus vannamei).
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM Shinta Bella Berlina |
| Department | Kelautan |
| Uncontrolled Keywords | UDANG VANNAMEI |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Ilmu Kelautan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 16 Oct 2026 02:37 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:05 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/18148 |
