TRUNOJOYO-KP-27411-200311100022-Mukhtafatul Hadisah_200311100022_Laporan PKL.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (10MB)
Abstract
Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan salah satu umbi-umbian yang
banyak dibudidayakan oleh petani di Indonesia. Tanaman ini adalah tanaman
sayuran dari family Solanacea yang banyak digunakan sebagai bahan makanan
dengan kandungan nutrisi yang cukup baik, yaitu mengandung protein berkualitas
tinggi, asam amino esensial, mineral, dan elemen-elemen mikro lainnya. Disamping
itu juga, umbi kentang mengandung sedikit lemak dan kolesterol, serat, vitamin C,
kalsium, zat besi, vitamin B6 yang cukup tinggi (Saputro et al., 2019).
Tanaman kentang merupakan komoditas hortikultura yang cukup strategis
dalam penyediaan bahan pangan untuk mendukung ketahanan pangan masyarakat.
Pengembangan agribisnis kentang yang sangat strategis tersebut, dapat
meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani serta menunjang program
diversifikasi pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat (Yusdian et al.,
2018). Dalam kegiatan budidaya kentang, perbanyakan dilakukan dengan model
vegetatif dan sesuai dengan GAP (Good Agricultural Practice). Budidaya dimulai
dengan pembibitan menggunakan benih berkualitas dan bersertifikat. Daerah yang
sangat cocok dijadikan lokasi budidaya kentang adalah di daerah dataran tinggi
dengan ketinggian 1.000-1.300 meter di atas permukaan laut dan memiliki curah
hujan 1.500 mm per tahun dengan suhu rata-rata harian 18-21°C serta kelembaban
udara di angka 80-90% (Alhasany dan Sri, 2022).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada tahun 2021 produksi tanaman
kentang nasional mengalami peningkatan pada sebesar 1,36 juta ton. Jumlah itu
naik 6,10% dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebesar 1,28 juta ton/ha.
Melihat hal tersebut, produksi tanaman kentang mengalami fluktuasi dalam satu
dekade terakhir. Pada tahun 2011, produksi kentang tercatat sebanyak 955.488 ton.
Jumlahnya mengalami kenaikan mencapai 1,35 juta ton pada tahun 2014. Namun,
produksi kentang di dalam negeri kembali turun 9,54% menjadi 1,22 juta ton pada
tahun 2015. Pada tahun 2019 produksi kentang kembali mengalami kenaikan
hingga mencapai 1,31 juta ton pada tahun 2019. Sedangkan di Jawa Timur produksi
kentang mencapai 324.338,00 ton karena menjadi produsen terbesar di Indonesia
(Badan Pusat Statistik, 2021). Mengingat semakin meningkatnya produksi kentang tersebut, maka perlu
upaya untuk meningkatkan kualitas hasil dan produktivitas dari tanaman kentang
dengan menyediakan hasil panen yang unggul dan bersertifikat untuk menunjang
kebutuhan pangan masyarakat Indonesia. Salah satu upaya yang dapat dilakukan
yaitu dengan memperbaiki sistem pemeliharaan dalam budidaya tanaman kentang.
Tanaman kentang di Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan (P4S) Arboretum
Farm Bumiaji Batu dibudidayakan pada lahan yang cukup luas untuk menghasilkan
hasil produksi kentang yang cukup banyak dalam memenuhi kebutuhan ekspor,
dengan varietas yang dibudidayakan yaitu varietas Granola L. Upaya tersebut
diharapkan mampu memberikan hasil produksi kentang yang dapat memenuhi
kebutuhan pasar terutama kebutuhan ekspor pada tingkat Asia maupun di dunia
dengan adanya jenis varietas yang digunakan saat budidaya.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM MUKHTAFATUL HADISAH |
| Department | Agroekoteknologi |
| Uncontrolled Keywords | KENTANG |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 16 Oct 2026 02:24 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:05 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/18083 |
