TRUNOJOYO-KP-27393-200311100073-AMALIA RISKA NUR DIANA SARI_200311100073_LAPORAN PKL.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (3MB)
Abstract
Tanaman Kelor (Moringa oleifera Lamk.) merupakan salah satu jenis
tanaman yang mudah tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia. Tanaman kelor
dapat tumbuh subur pada dataran rendah sampai ketinggian 700 m di atas
permukaan laut. Kelor dapat juga tumbuh pada daerah subtropis pada semua jenis
tanah dan tahan terhadap musim kering dengan toleransi terhadap kekeringan
sampai 6 bulan (Sawaluddin, 2018). Tanaman kelor menurut sejarahnya berasal
dari kawasan Himalaya dan India, kemudian menyebar ke kawasan disekitarnya
hingga ke Benua Afrika dan Asia Barat. Di Indonesia tanaman kelor dikenal
dengan berbagai nama daerah, seperti murong (Aceh), munggai (Sumatera Barat),
kilor (Lampung), kelor (Jawa Barat dan Jawa Tengah), marongghi (Madura),
kiloro (Bugis), parongge (Bima), kawano (Sumba), marungga/hau fo (Timor),
moltong (Flores)dan kelo (Ternate) (Kurniawan, 2019).
Tanaman kelor mengandung banyak senyawa yang dapat dimanfaatkan
untuk obat maupun digunakan untuk merangsang pertumbuhan tanaman.
Tanaman kelor mengandung hormon tumbuh yaitu sitokinin dan zeatin. Sitokinin
merupakan hormon tanaman yang menginduksi pembelahan sel, pertumbuhan,
dan mendorong pertumbuhan sel baru serta menunda penuaan sel. Zeatin
merupakan anti oksidan kuat dengan sifat anti penuaan. Tanaman kelor dapat
dimanfaatkan secara keseluruhan dari bagian akar, batang, daun, bunga, buah, dan
bijinya. Kelor banyak dimanfaatkan untuk bidang kesehatan, antara lain untuk
mengatasi masalah kekurangan gizi, kelaparan, serta menyembuhkan dan
mencegah berbagai penyakit. Saat ini, tanaman kelor dilaporkan meningkatkan
berbagai fungsi biologis termasuk fungsi anti inflamasi, antikanker,
hepatoprotektif, dan neuroprotektif (Budiman, 2021).
Kegiatan budidaya tanaman sangat memerlukan bibit tanaman yang unggul
agar mendapatkan hasil produk yang berkualitas. Membudidayakan tanaman kelor
perlu teknik perbanyakan yang tepat supaya mendapatkan hasil yang optimal
sehingga dapat menghasilkan tanaman yang berkualitas baik. Terdapat dua teknik
perbanyakan yaitu secara generatif (biji) dan vegetatif (stek). Teknik perbanyakan
yang dilakukan di PT. Moringa Organik Indonesia adalah teknik perbanyakan secara generatif. Perbanyakan secara generatif merupakan salah satu perbanyakan
mengunakan biji atau benih. Kelebihan perbanyakan dari biji yaitu biji tumbuh
lebih cepat dan bibit tanaman kelor yang ditanam dari biji memiliki perakaran
yang lebih dalam, dan membentuk akar tunggang yang lebar, didukung dengan
pendapat Wasonowati (2018) pertumbuhan awal bibit kelor pada perbanyakan
tanaman dari biji tumbuh lebih cepat daripada stek batang, bibit yang diperbanyak
dari biji lebih cepat dan memiliki tingkat pertumbuhan awal yang lebih cepat
dalam hal tinggi tanaman, jumlah daun dan diameter batang dari pada bibit dari
stek batang. Namun disamping itu perbanyakan secara generatif memiliki
kekurangan yaitu, mengalami perubahan sifat dari induknya dan memerlukan
waktu yang cukup lama untuk berbuah.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM AMALIA RISKA NUR DIANA SARI |
| Department | Agroekoteknologi |
| Uncontrolled Keywords | KELOR |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 16 Oct 2026 02:10 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:05 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/18023 |
