TRUNOJOYO-KP-27355-200311100112-AJI SUTOPO_200311100112_LAPORAN PKL.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (5MB)
Abstract
Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) merupakan komoditi yang
mempunyai nilai ekonomis tinggi dan sangat potensial untuk dikembangkan.
Indonesia merupakan negara produsen kakao terbesar ke 3 di dunia. Luas areal
produksi kakao pada tahun 2021 seluas 1.497.467 ha dengan produksi 728.048
ton dengan produktivitas sebanyak 486,2 kg/ha. Luasan areal perkebunan
kakao di Indonesia 98% merupakan perkebunan kakao rakyat (Direktorat
Jenderal Perkebunan, 2021).
Pada proses pengembangan produksi tanaman kakao terdapat tantangan
antara lain penurunan areal 0,39% per tahun, penurunan produksi 0,41% per
tahun dalam 10 tahun terakhir, dan rendahnya produktivitas yaitu hanya 0,42
ton/ha (Direktorat Jenderal Perkebunan 2019). Menurut Kristanto (2011)
menurunnya tingkat produksi dipengaruhi oleh faktor lahan, modal, tenaga
kerja, pupuk, bibit, dan pestisida. Demikian juga teknik budidaya tanaman
yang masih rendah seperti pemupukan, pemangkasan, sanitasi dan
pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).
Pertumbuhan gulma pada perkebunan kakao merupakan masalah yang
perlu diperhatikan. Hal tersebut karena jumlah gulma yang tumbuh pada
perkebunan kakao menyebabkan gangguan pada hasil produktivitas. Gulma
yang tumbuh pada areal perkebunan kakao bisa menyebabkan terjadinya
persaingan dalam penyerapan unsur hara, nutrisi, air dan sinar matahari.
sehingga menghambat pertumbuhan tanaman dan tempat untuk sumber hama
atau penyakit. Keberadaan gulma juga bisa menghasilkan senyawa alellopati
yang bersifat toksik terhadap tanaman kakao.
Keberadaan gulma yang biasanya terdiri dari rumput (Graminae), teki
(Cyperaceae) atau herba lunak (Asteraceae) dan paku – pakuan (Pteridophyta)
mempunyai sebaran akar sama seperti kakao, sehingga keberadaan gulma
merepresentasikan ancaman berkurangnya ketersediaan sumberdaya alam untuk kehidupan kakao. Kerugian yang ditimbulkan gulma terlihat pada
penurunan hasil tanaman budidaya (Istikana, 2019)
Luasnya pertumbuhan gulma menyebabkan kesulitan dalam kegiatan
kultur teknis seperti pemupukan, wiwil kasar (WK), dan menunas. Oleh
karena itu perlu adanya pengendalian gulma untuk menekan kerugian yang
disebabkan oleh gulma untuk meningkatkan hasil produktivitas tanaman
kakao dan lingkungan perkebunan. Pengendalian tersebut bisa dilakukan
secara manual menggunakan peralatan seperti sabit dan cangkul, sedangkan
pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan menyemprotkan herbisida.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM AJI SUTOPO |
| Department | Agroekoteknologi |
| Uncontrolled Keywords | GULMA; KAKAO |
| Divisions | Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 16 Oct 2026 01:49 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:05 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/17920 |
