KAJIAN PENYAKIT BUSUK BUAH (Phytophthora palmivora) PADA TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao L.) DI PTPN XII KEBUN KENDENGLEMBU, BANYUWANGI

RIDHA NUR AZIZAH (2023) KAJIAN PENYAKIT BUSUK BUAH (Phytophthora palmivora) PADA TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao L.) DI PTPN XII KEBUN KENDENGLEMBU, BANYUWANGI. S1 thesis, Universitas Trunojoyo Madura.
[thumbnail of TRUNOJOYO-KP-27348-200311100031-RIDHA NUR AZIZAH_200311100031_Laporan PKL.pdf] PDF
TRUNOJOYO-KP-27348-200311100031-RIDHA NUR AZIZAH_200311100031_Laporan PKL.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (2MB)

Abstract

Instansi yang mempunyai kapasitas untuk digunakan sebagai tempat kegiatan
praktik kerja lapang oleh mahasiswa adalah PTP Nusantara XII Kebun
Kendenglembu Banyuwangi. PT Perkebunan Nusantara XII atau biasa disebut
dengan PTPN XII merupakan Perseroan Terbatas dengan komposisi kepemilikan
sahamnya meliputi Negara 10% dan PT Perkebunan Nusantara III (Persero) 90%.
PTPN XII ini adalah sebuah perusahaan yang bergerak sdalam bidang agro bisnis
dan agro industri. PTPN XII mengelola area perkebunan seluas 80.000 ha dan
tersebar diseluruh wilayah jawa timur yang terbagi dalam tiga wilayah dan 34
kebun. Komoditi yang dihasilkan dari ketiga wilayah tersebut adalah karet, kopi
robusta, kopi arabika, kakao bulk, kakao edel, teh, dan aneka kayu.
Kakao merupakan salah satu tanaman perkebunan yang menjadi komoditas
unggulan di Provinsi Sulawesi Tengah yang kemudian menyebar dipulau jawa
salah satunya di Kabupaten Banyuwangi. Salah satu destinasi wisata edukasi yang
didukung oleh pemerintah Banyuwangi yaitu Doesoen Kakao. Objek wisata
tersebut terletak di wilayah PTPN XII tepatnya di Kendenglembu, Kecamatan
Glenmonre, Kabupaten Banyuwangi. Pengelolaan destinasi wisata Doesoen
Kakao tersebut dalam naungan PTPN XII dibawah Afdeling Pager Gunung. Kakao
juga merupakan komoditas tanaman perkebunan yang memiliki produktivitas
terbesar ketiga setelah kelapa sawit dan karet. Pengembangan budidaya kakao
diperkebunan memiliki peran penting dalam meningkatkan perekonomian petani
dan sebagai salah satu sumber devisa. Menurut Direktorat Jendral Perkebunan,
(2015) pada tahun 2015 luas areal kakao telah mencapai 1.724.092 ha dengan
jumlah produksi 661.243 ton. Menurut Mithofer et al., (2018), kebijakan dan
program pembangunan di negara-negara produsen memfokuskan pada perluasan
lahan budidaya kakao dan peningkatan produktivitas, terlepas dari kebutuhan
petani kecil akan sistem pertanian yang layak secara ekonomi dan struktur pasar
yang ada sehingga menghasilkan sedikit daya tawar bagi petani.
Kakao adalah salah satu tanaman perkebunan yang dibudidayakan dan
dikembangkan oleh PTPN XII Kebun Kendenglembu Banyuwangi yang berada di
Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Salah satu kendala yang terjadi pada budidaya kakao di Kebun
Kendenglembu yaitu penyakit busuk buah yang disebabkan oleh cendawan
Phytophthora palmivora. Menurut Rosmana et al., (2010a) penyakit busuk buah
yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora palmivora ini menyebabkan
kehilangan hasil mencapai 90% terutama pada saat musim hujan atau kemarau
pada lahan yang terdapat populasi serangga semut banyak sehingga serangan
penyakit tersebut menjadi penghambat budidaya kakao. Penyebaran penyakit
tersebut yaitu menyebar dari buah yang terinfeksi ke buah yang lainnya melalui
beberapa media seperti sentuhan langsung antara buah satu dengan lainnya,
percikan air, terbawa oleh hewan (semut atau tupai), dan tiupan angin. Penyebaran
penyakit busuk buah akan cepat menyebar jika kondisi kebun terlalu lembab
karena pertumbuhan jamur Phytophthora palmivora dapat tumbuh subur pada
daerah yang lembab.
Beberapa jenis penyakit yang dapat menyerang tanaman kakao, namun yang
sangat penting dan perlu diperhatikan untuk dikendalikan yaitu penyakit busuk
buah atau black pot rot. Menurut Ferayanti et al., (2016), penyakit busuk buah
merupakan penyakit yang terpenting dalam budidaya kakao di Indonesia. Potensi
serangan penyakit tersebut disetiap kebun sangat berbeda, hal tersebut disebabkan
oleh kondisi iklim dan lahan kakao yang berbeda misalnya kelembaban, suhu,
curah hujan, dan intensitas cahaya matahari.
Penyakit busuk buah kakao disebabkan oleh jamur Phytophthora palmivora
(Fauzan et al., 2013). Penyakit busuk buah pada kakao dapat diketahui dengan
melihat gejala pada buah kakao yaitu terdapat bercak-bercak hitam pada bagian
kulit luar buah. Bercak-bercak hitam tersebut akan meluas hingga menutupi
semua bagian kulit buah jika tidak segera dilakukan pengendalian penyakit
tersebut. Gejala busuk buah tersebut timbul pada buah diberbagai tingkatan umur
buah yaitu mulai dari buah masih muda atau kecil hingga buah yang hampir
masak. Berdasarkan latar belakang diatas adanya serangan penyakit busuk buah
tersebut diperlukan adanya pengendalian busuk buah dengan tepat agar jumlah
produksi buah kakao dapat lebih maksimal dan dapat menekan kerugian hasil
panen kakao oleh adanya penyakit busuk buah tersebut.

Item Type Thesis (Skripsi)
Thesis Type S1
Creators
Creators
NIM
RIDHA NUR AZIZAH
Department Agroekoteknologi
Uncontrolled Keywords PENYAKIT BUSUK BUAH; KAKAO
Divisions Fakultas Pertanian > S1 - Agroekoteknologi
Additional Information elib mass import
Depositing User Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id
Date Deposited 16 Oct 2026 01:45
Last Modified 24 Oct 2026 17:05
URI https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/17900

Actions (login required)

View Item
View Item