TRUNOJOYO-KP-27260-200351100054-PUTRI FAJAR DWI YANTI_200351100054_MSP.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (2MB)
Abstract
Indonesia memiliki potensi yang sangat besar terhadap budidaya
perikanan. Kegiatan budidaya perikanan dapat dijadikan sebagai pengembangan
mata pencaharian nelayan sekaligus peningkatan ketahanan pangan. Organisme
budidaya memerlukan pakan yang memiliki nutrisi tinggi untuk menunjang
pertumbuhannya. Pakan dengan nutrisi tinggi dapat diperoleh dari pakan yang
sengaja diberikan ke organisme budidaya atau berasal dari pakan alami (Pratiwi
et al., 2011).
Budidaya komersial secara semi intensif sepenuhnya mengandalkan suplai
pakan dari pembudidaya. Suplai pakan tersebut dapat berupa pakan alami maupun
pakan buatan. Pakan buatan yang diberikan dapat berupa pelet yang terbuat dari
tepung ikan. Lestari et al. (2014) menyatakan bahwa pelet adalah jenis pakan
komersial yang umumnya digunakan untuk menunjang kegiatan budidaya.
Pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan optimal apabila diberikan makanan
tambahan berupa pelet (Yanuar, 2017).Pelet memiliki kandungan protein tinggi
yang dapat memenuhi kebutuhan kelangsungan hidup ikan. Selain itu, tingkat
fermentasi yang dilakukan saat pembuatan pakan pelet juga mempengaruhi laju
pertumbuhan ikan. Pakan pelet yang mengalami fermentasi dengan baik akan
lebih mudah diserap oleh ikan sehingga laju pertumbuhan ikan semakin cepat
(Salamah dan Zulpikar, 2020).
Pakan buatan berupa pelet juga memiliki beberapa kelemahan yang perlu
dipertimbangkan dalam penggunaannya. Pelet dari bahan baku yang memiliki
kadar serat tinggi tidak dapat dicerna oleh ikan. Ilyas et al. (2014) menyatakan
bahwa tingginya kadar serat pada pelet akan mempersingkat waktu tubuh dalam
penyerapan nutrisi dan pencernaan pada ikan. Niode et al. (2017) menyatakan
bahwa penggunaan formula pakan pelet yang kurang tepat akan menjadi limbah
dan mengotori media budidaya. Pakan pelet memiliki harga yang relatif mahal
dan tidak sebanding dengan hasil panen yang didapatkan (Uslianti et al., 2014).
Pakan alami merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan sebagai
pemasok pakan pada budidaya ikan selain pakan buatan. Pakan alami pada media budidaya dapat berupa plankton, baik fitoplankton atau zooplankton. Krisiyanto
et al. (2021) menyatakan bahwa fitoplankton di perairan berperan sebagai
produsen primer pada trofik rantai makanan di perairan, sedangkan zooplankton
berperan sebagai konsumen tingkat satu. Anggraeni dan Abdulgani (2013)
menyatakan bahwa pakan alami dapat dijadikan sebagai pakan pengganti dengan
harga yang lebih ekonomis dibandingkan dengan pakan buatan. Pakan alami jenis
plankton memiliki kelengkapan nutrisi yang tinggi sehingga mampu menjaga
pertumbuhan larva budidaya organisme agar berlangsung normal (Arief et al.,
2011).
Pakan alami untuk budidaya ikan dapat menggunakan beberapa jenis
plankton. Pratiwi et al. (2011) menyatakan bahwa pakan alami yang digunakan
pada kagiatan budidaya ikan nilem yaitu dari kelas Chlorophyceae dan
zooplankton jenis crustacea, protozoa, dan rotifera. Difinubun et al (2020)
menyatakan bahwa jenis zooplankton yang sering digunakan sebagai pakan alami
untuk larva ikan laut dan udang adalah rotifera. Rotifera (Brachionus plicatilis)
memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan jenis zooplankton lainnya,
diantaranya rotifera memiliki pergerakan yang sangat lambat dan berukuran mikro
sehingga mudah di mangsa oleh larva ikan, perkembangbiakan dan pertumbuhan
rotifera relatif cepat dan mudah di kultur secara massal, memiliki gizi yang cukup
tinggi, dan tidak menghasilkan racun yang dapat membahayakan larva ikan
(Nurlinda et al., 2020).
Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara merupakan
salah satu balai pengembangan budidaya organisme air payau. BBPBAP Jepara
memiliki laboratorium pakan alami untuk menunjang kebutuhan pakan larva
organisme budidaya. Laboratorium pakan alami melakukan kultur dalam tiga
skala, yaitu skala laboratorium, skala intermediet, dan skala massal. Kultur skala
laboratorium dan intermediet dilakukan di laboratorium pakan alami, sedangkan
kultur skala massal dilakukan di kolam kultur beton di luar laboratorium.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM Putri Fajar Dwi Yanti |
| Department | Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Uncontrolled Keywords | TEKNIK KULTUR ROTIFERA |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 16 Oct 2026 00:37 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 17:04 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/17609 |
