UPAYA PENGENDALIAN PENCEMARAN SUNGAI AKIBAT SAMPAH PLASTIK BERBASIS EDUKASI TERHADAP MASYARAKAT DI ECOTON

RADITA PUTRI PUSPITASARI (2022) UPAYA PENGENDALIAN PENCEMARAN SUNGAI AKIBAT SAMPAH PLASTIK BERBASIS EDUKASI TERHADAP MASYARAKAT DI ECOTON. S1 thesis, Universitas Trunojoyo Madura.
[thumbnail of TRUNOJOYO-KP-26147-190351100063-DOC-20220927-WA0000.pdf] PDF
TRUNOJOYO-KP-26147-190351100063-DOC-20220927-WA0000.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (3MB)

Abstract

Sungai adalah tempat berkumpulnya air yang terbuka yang mempunyai
peranan penting bagi masyarakat. Peranan lainnya pada sungai yaitu sebagai tempat
berlangsungnya ekosistem. Keberadaan manusia yang semakin bertambah jumlahnya
menyebabkan sungai mengalami penurunan kualitas. Sungai dapat melakukan
pemulihan terhadap dirinya sendiri dari bahan pencemaran akan tetapi jika jumlah
dari bahan pencemarnya tidak berlebihan, tetapi karena aktivitas manusia seperti di
bidang industri maupun rumah tangga yang semakin lama semakin meningkat maka
menyebabkan sungai tidak bisa melakukan pemulihan terhadap dirinya sendiri
(Hasby et al, 2014).
Sampah yang dihasilkan manusia berupa sampah orgnanik dan non organik.
Sampah non organik yang dihasilkan berjumlah sekitar 30-40%, dari jumlah sampah
non organik tersebut sebanyak 14% adalah sampah plastik (Purwaningrum, 2016).
Data bank dunia di Indonesia menyebutkan bahwa sampah padat yang dihasilkan
secara nasional jumlahnya 151,921 ton per hari, berarti sampah padat yang dibuang
setiap penduduk di Indonesia rata-rata 0,85 kg per hari. Indonesia juga menjadi
penyumbang sampah plastik terbesar kedua di perairan setelah Cina (Amalia dan
Putri, 2021). Data sungai internasional menyebutkan bahwa terdapat empat sungai
yang tercemar di Indonesia yang masuk kategori 20 sungai tercemar di dunia salah
satunya adalah Sungai Brantas. Kandungan sampah yang terdapat di Sungai Brantas
adalah popok diaper 42%, plastik 37% dan sampah rumah tangga sebanyak 30% yang
meliputi sampah organik, air cuci piring, dan air bekas cuci baju (Wulansari dan
Suwanda, 2019).
Sampah merupakan ancaman yang besar bagi kehidupan di berbagai
lingkungan. Terutama sampah plastik yang dikhawatirkan sudah mengancam
ekosistem perairan yang ada di dunia pada tahap kritis, karena hampir di seluruh perairan yang ada di dunia sudah ditemukan sampah plastik di dalamnya. Seiring
bertambahnya waktu jumlah penduduk pada suatu wilayah akan mengalami
peningkatan. Jumlah penduduk yang semakin meningkat akan mengakibatkan
peningkatan pula pada aktivitas dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang biasanya
berasal dari pertanian, industri, dan kegiatan rumah tangga yang akan menimbulkan
limbah yang dapat menjadi penyebab pencemaran dan penurunan kualitas air
(Setyaningrum dan Agustina, 2019). Peningkatan adanya limbah terutama sampah
plastik merupakan salah satu akibat dari aktivitas manusia dalam memenuhi
kebutuhannya (Wahdani et al, 2020).
Sifat plastik yang ringan, tahan lama, kuat dan juga tergolong murah
menjadikan penggunaan plastik yang semakin banyak sehingga meningkatkan
kelimpahan sampah plastik (Yunanto et Al, 2021). Sampah plastik merupakan
sampah yang proses degradasinya membutuhkan waktu yang lama dan dapat
berpotensi menimbulkan dampak yang besar (Ayuningtyas et al, 2019). Proses
degradasi sampah plastik dapat merubah warna, bentuk, dan ukurannya. Perubahan
ukuran sampah plastik dapat dikategorikan menjadi makroplastik, mesoplastik, dan
mikroplastik. Dari semua ukuran tersebut juga berbahaya bagi lingkungan maupun
biota di dalamnya (Yona et al, 2020).
Sampah plastik harus ditanggulangi atau dikurangi penggunaannya karena
dampak yang ditimbulkan juga besar. Pengelolaan dan pengurangan sampah plastik
merupakan tanggung jawab sesama baik pemerintah maupun masyarakat. Pemerintah
dalam menangani masalah sampah berperan untuk membuat peraturan atau
kebijakan. Pengubahan pola pikir masyarakat dan peningkatkan kesadaran
masyarakat akan lingkungan yang bersih juga berperan untuk penanganan masalah
sampah. Penanganan masalah sampah dari tingkat yang paling rendah bisa dari rumah
tangga dengan cara memilah sampahnya. Semakin tinggi kesadaran masyarakat
dalam pemilahan sampah maka tumpukan sampah yang terdapat di tempat
pembuangan akhir (TPA) juga berkurang, karena pemilahan sampah berguna untuk
pengelolaan sampah selanjutnya (Armadi, 2021).
Peningkatan kesadaran masyarakat tentang masalah sampah dapat dilakukan
dengan kegiatan edukasi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Septiani et al
(2019), menyampaikan bahwa kelimpahan sampah plastik yang ada saat ini
merupakan akibat dari kurangnya pengetahuan tentang dampak plastik kepada
masyarakat sehingga kurangnya kesadaran dari masyarakat akan pengelolaan dan
pengurangan sampah plastik, sehingga edukasi sampah plastik kepada masyarakat
perlu dilakukan agar pengelolaan sampah plastik dapat ditangani dengan baik dari
lingkup yang paling rendah yaitu rumah tangga. Oleh karena itu, pada penelitian ini
pentingnya melakukan sosialisasi dalam bentuk edukasi terhadap masyarakat agar
lebih bijak dalam menangani masalah sampah misalnya dengan meminimalisir
pembuangan sampah di sungai dan melakukan pemilahan sampah. Dalam
menemukan upaya mengatasi pencemaran sungai dari sampah plastik mahasiswa
mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh ECOTON dalam melakukan upaya
mengatasi msalah pencemaran sampah plastik.

Item Type Thesis (Skripsi)
Thesis Type S1
Creators
Creators
NIM
RADITA PUTRI PUSPITASARI
Department Manajemen Sumberdaya Perairan
Uncontrolled Keywords SAMPAH PLASTIK
Divisions Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan
Additional Information elib mass import
Depositing User Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id
Date Deposited 15 Oct 2026 08:55
Last Modified 24 Oct 2026 16:59
URI https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/13431

Actions (login required)

View Item
View Item