TRUNOJOYO-KP-26090-180341100044-Alisiyyah RF_180341100044_Laporan PKL.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (670kB)
Abstract
Indonesia adalah negara kepulauan yang mempunyai kekayaan sumber daya hutan
mangrove yang besar dan terluas di dunia. Dunia mempunyai hutan mangrove
yang luasnya mencapai sekitar ± 16.530.000 hektar yang tersebar di seluruh
daratan bumi. Luas hutan mangrove di Asia sekitar ± 7.441.000 hektar, di Afrika
sekitar ± 3.258.000 hektar, dan di Amerika sekitar ± 5.831.000 hektar. Sedangkan
hutan mangrove di Indonesia mempunyai luas sekitar ± 3.735.250 hektar, dengan
demikian Indonesia mempunyai hutan mangrove yg luasnya hampir 50% dari luas
hutan mangrove di Asia dan memiliki hutan mangrove yang luasnya hampir 25%
dari luas hutan mangrove di dunia (Husuna et al. 2019).
Hutan mangrove adalah salah satu ekosistem utama penyusun wilayah tropis selain
dari pelagis estuaria, padang lamun, dan terumbu karang. Hutan mangrove dapat
berfungsi sebagai sumber daya pembangunan pesisir, baik sebagai sumber daya
ekonomi maupun sumber daya ekologi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat
pesisir (Mas ud 2017). Luas potensial dari hutan mangrove yang ada di Indonesia
adalah 8,6 juta ha yang terdiri dari 3,8 juta ha hutan mangrove terdapat di kawasan
hutan dan 4,8 juta ha hutan mangrove terdapat di luar kawasan hutan. Berdasarkan
kondisi lapang, diperkirakan bahwa 1,7 juta ha (44,73%) hutan mangrove yang
berada di dalam kawasan hutan dan 4,2 juta ha (87,50%) hutan mangrove yang
berada di luar kawasan hutan dalam keadaan rusak (Utomo et al. 2017).
Menurut Saputra et al. (2016) menyatakan bahwa karakteristik habitat hutan
mangrove umumnya tumbuh di daerah intertidal yang memiliki jenis tanah
berlumpur, berlempung dan berpasir, daerahnya tergenang air secara berkala, baik
setiap hari maupun yang hanya tergenang pada saat pasang purnama. Mangrove
tumbuh optimal di daerah pesisir yang memiliki muara sungai besar dan delta yang
aliran airnya banyak mengandung lumpur. Tipe substrat pada suatu pantai sangat
mempengaruhi pertumbuhan mangrove. Tipe substrat jenis silt (debu) dan clay
(liat) merupakan faktor penunjang proses regenerasi dimana partikel liat yang berupa lumpur akan menangkap buah tumbuhan mangrove yang jatuh ketika sudah
masak. Proses regenerasi ini sangat mempengaruhi kerapatan mangrove di suatu
area. Sebaliknya pada pantai dengan substrat berpasir atau pasir dengan campuran
pecahan karang, kerapatan mangrovenya akan rendah dikarenakan jenis substrat
tersebut tidak mampu menangkap atau menahan buah mangrove yang jatuh
sehingga proses regenerasi tidak terjadi (Kordi 2012).
Keadaan hutan mangrove kini relatif mengkhawatirkan lantaran ulah manusia
yang memberikan tekanan terhadap habitat mangrove dengan cara mengubah
kawasan hutan mangrove menjadi area pemukiman penduduk, perhotelan, tempat
wisata, tambak, dan area pertanian. Selain itu, adanya aktivitas eksploitasi hutan
mangrove secara legal maupun ilegal yang berlebihan karena banyaknya
permintaan terhadap produksi kayu yang mengakibatkan turunnya populasi
mangrove sampai lebih dari 50% dalam kurung waktu 30 tahun (Martuti 2013).
Hal ini menyebabkan terjadinya kerusakan hutan mangrove yang sangat parah
yang akan sangat berdampak buruk pada lingkungan pesisir sekitar. Maka dari itu
pelestarian hutan mangrove sangatlah penting bagi lingkungan pesisir, dalam
upaya pelestariannya salah satu kawasan yang melakukan pelestarian hutan
mangrove adalah BMC (Banyu Urip Mangrove Center) yang berada di Kecamatan
Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik. Pelestarian ini dilakukan karena kesadaran
masyarakat sekitar akan pentingnya ekosistem mangrove bagi lingkungan pesisir.
Pelestarian ini dilakukan dengan menanam bibit bakau disetiap tahunnya yang
sudah dilaksanakan selama 20 tahun terakhir. Hal ini, memberikan dampak yang
sangat baik ekosistem mangrove maupun terhadap perekonomian masyarakat
sekitar.
Dalam mempelajari teori dari ekosistem mangrove diperlukan implementasi
secara langsung dengan terjun langsung ke lapang untuk menunjang kelengkapan
teori yang dipelajari, maka perlu diadakan kegiatan Praktik Kerja Lapang (PKL).
Pada kegiatan PKL ini saya melakukan penelitian zonasi keanekaragaman
mangrove berdasarkan tipe substrat, hal ini dilakukan utnuk mengetahui mangrove
apa saja yang ada di daerah tersebut. Kegiatan ini juga dilakukan untuk memperoleh ilmu baru dan penguasaan keahlian dengan tingkat tertentu agar dapat
beradaptasi saat menghadapi dunia kerja.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM Alisiyyah Rochimatul Fadlilah |
| Department | Kelautan |
| Uncontrolled Keywords | MANGROVE; GRESIK |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Ilmu Kelautan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 15 Oct 2026 08:07 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:58 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/13204 |
