TRUNOJOYO-KP-26080-190351100022-ELVINAINDRI_LAPORAN MBKM.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (4MB)
Abstract
Mikroplastik merupakan salah satu bagian dari sampah plastik yang lebih
berpotensi serius dibandingkan material plastik yang berukuran besar (Mauludy
et al., 2019). Keberadaan mikroplastik di perairan dapat berisiko untuk
dikonsumsi oleh biota perairan karena menyerupai makanan. Tuhumury dan
Ritonga (2020) menyatakan bahwa keberadaan mikroplastik di badan perairan
dapat dikonsumsi secara langsung oleh biota perairan seperti ikan, kerang,
crustasea, dan makhluk hidup yang terdapat di dalam suatu perairan. Hanif et al.
(2021) menegaskan bahwa pertambahan mikroplastik di perairan laut
dikhawatirkan dapat masuk ke rantai makanan dan mempengaruhi biota yang
terdapat di dalamnya. Hal ini dapat mengganggu sistem pencernaan suatu biota
perairan.
Dampak lain yang ditimbulkan oleh mikroplastik di dalam sistem
pencernaan biota perairan adalah menghambat tingkat pertumbuhan dan
produksi enzim, menurunkan kadar hormon steroid, mempengaruhi reproduksi,
dan dapat menyebabkan paparan aditif plastik sehingga bersifat toksik pada
biota perairan. Kandungan kimia plastik juga akan ikut terserap dalam tubuh
biota perairan. Apabila biota perairan ini dikonsumsi oleh manusia, maka akan
terjadi proses transfer senyawa toksik dari biota perairan ke tubuh manusia
(Tuhumury dan Ritonga, 2020). Selanjutnya, mikroplastik akan berada di dalam
lumen sehingga dapat berinteraksi dengan darah melalui proses adsorpsi dan
akan mengikat protein dan glikoprotein dalam darah. Hal tersebut dapat
mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dan pembengkakan usus. Ukuran
mikroplastik yang sangat kecil juga memungkinkan terjadinya transportasi
partikel mikroplastik ke jaringan organ lain (Budi dan Inneke, 2018).
Crustasea termasuk ke dalam kelompok benthos utama yang terdiri dari
udang, kepiting, dan udang karang dari kelompok Subfilum terbesar dalam Filum
Arthropoda, yaitu organisme akuatik dengan alat gerak (appendages) bersendi.
Habitat Crustasea berada pada tepian danau, sungai, dan estuari (Hernawati et al., 2013). Salah satu jenis crustasea yang dapat ditemukan di lingkungan
perairan sungai adalah udang. Diani (2020) menyatakan bahwa udang hidup di
sungai, danau dan rawa. Siklus hidup udang galah menempati 2 habitat, yaitu di
muara sungai saat pemijahan dan kembali lagi ke sungai saat menjadi dewasa.
Pinem (1998) menyatakan bahwa udang (Macrobrachium aquides) banyak ditemukan di wilayah muara sungai, lebih suka air payau. Akan tetapi, kadang-
kadang berada di air yang di pengaruhi pasang surut.
Masyarakat sering mengonsumsi biota perairan, khususnya dari
kelompok udang, ikan, serta kerang-kerangan yang berada di perairan, salah
satunya adalah udang. Beberapa kalangan masyarakat menyukai jenis udang
karena memiliki rasa yang enak serta kandungan gizi yang cukup tinggi sebagai
sumber protein hewani dan bermutu tinggi. Adawiyah et al. (2017) menyatakan
bahwa kandungan protein pada udang galah sebesar 12,67% yang berasal dari
ekstrak limbah kepala udang dengan kandungan unsur glisin yang menyebabkan
rasa pada udang menjadi manis dan gurih. Udang galah sering kali dikonsumsi
menjadi produk olahan makanan tradisional seperti bothok atau pepes dan
gimbal udang galah air tawar. Hal ini dipertegas oleh laporan Adawyah et al.
(2017) yang melaporkan bahwa pemanfaatan dan pengolahan udang galah
dapat dijadikan sebagai pembuatan pakan budidaya, petis, dan terasi di provinsi
Kalimantan Selatan.
Hal yang seringkali terlupakan dan tidak di sadari oleh kebiasaan
masyarakat yang berada di sekitaran aliran sungai adalah kepeduliannya
terhadap udang yang dikonsumsi sebagai sumber makanan tambahan.
Masyarakat sering mengabaikan faktor kebersihan dan kesehatan lingkungan
perairan, khususnya sungai yang menjadi tempat dan habitat dari udang yang
dikonsumsi. Masyarakat dimungkinkan belum mengetahui adanya informasi
risiko dan bahaya dari kontaminasi mikroplastik yang dapat ditemukan di sistem
saluran pencernaan udang. Shinta et al. (2021) mengungkapkan adanya
kontaminasi mikroplastik pada sistem pencernaan udang galah di Sungai Brantas
dengan jumlah “mikroplastik” sebesar 0,6-5,46 partikel/ekor yang berasal dari
tujuh stasiun pengamatan dengan jenis mikroplastik yang ditemukan berupa
fiber, film, dan fragment.
Masyarakat masih menyepelekan kegiatan pembersihan dan
pembuangan organ atau sistem pencernaan udang sebelum dimasak atau
dikonsumsi. Masuknya kontaminasi mikroplastik yang terdapat di dalam sistem
pencernaan udang dapat berasal dari kondisi perairan yang terkontaminasi oleh
mikroplastik. Harpah et al. (2020) melaporkan adanya kontaminasi mikroplastik
pada air di sungai Sei Sikambing Medan dengan jumlah mikroplastik sebesar
28,6 partikel/250 ml air yang berasal dari tiga stasiun pengamatan dengan jenis
mikroplastik yang ditemukan berupa fiber, film, fragment, dan granule.
Selain ditemukan di sampel perairan, mikroplastik juga dapat ditemukan
mengendap di dasar perairan, yaitu di dalam sedimen perairan. Azizah et al.
(2020) menyatakan bahwa mikroplastik lebih banyak ditemukan pada sedimen
dan terjadi secara terus-menerus yang akan menimbulkan akumulasi
mikroplastik pada lapisan sedimen yang lebih dalam. Sifat mikroplastik dapat
mengalami perubahan seperti densitasnya atau kepadatanya. Hal ini dapat
disebabkan oleh paparan cahaya matahari yang berkepanjangan di laut,
pelapukan, dan proses biofouling. Lestari et al. (2021) melaporkan adanya
kontaminasi mikroplastik pada sedimen di Pulau Panjang, Jepara dengan jumlah
mikroplastik sebesar 3.585-8.107 partikel/m3 yang berasal dari tiga stasiun
dengan jenis mikroplastik yang ditemukan berupa fiber, film, dan fragmen.
Data terkait jumlah dan jenis mikroplastik yang ditemukan pada sampel
udang (Macrobrachium aquidens), air permukaan, dan sedimen dii Sungai
Brantas secara komprehensif dan menyeluruh masih sangat sedikit, bahkan
masih belum banyak ditemukan adanya upaya pendeteksian dini terkait
kontaminasi mikroplastik di Sungai Brantas. Selain itu, juga masih sangat
minimnya informasi terkait solusi alternatif yang dapat dilakukan sebagai upaya
pencegahan kontaminasi mikroplastik terhadap biota perairan yang terdapat di
Sungai Brantas.
Beberapa penelitian hanya mengkaji dan meneliti jumlah dan jenis
mikroplastik pada sampel air (Wijaya dan Thihadiningrum, 2019; Haji et al., 2012;
Ayuningtyas et al., 2019). Beberapa penelitian yang lain juga hanya mengkaji
jumlah dan jenis mikroplastik pada sampel sedimen (Sitompul et al., 2021;
Mauludy et al., 2018; Azizah et al., 2020). Bahkan, penelitian terbaru yang
dilakukan oleh Shinta et al. (2021) juga hanya mengkaji jumlah dan jenis kontaminasi mikroplastik pada sampel Crustacea (udang) dan Gastropoda.
Beberapa penelitian terkait mikroplastik (Joesidawati, 2018; Hanif et al., 2021;
Suharsono et al., 2021; Basri et al., 2012) juga masih belum mengungkap secara
jelas upaya pendeteksian dini terkait kontaminasi mikroplastik di perairan. Begitu
pula, masih banyak penelitian terkait mikroplastik yang belum menjelaskan
secara detail solusi alternatif yang dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan
kontaminasi mikroplastik terhadap biota perairan yang terdapat di Sungai
Brantas.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM ELVINA INDRIANI SUBAKTI |
| Department | Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Uncontrolled Keywords | UDANG; SUNGAI BRANTAS; MIKROPLASTIK |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Manajemen Sumberdaya Perairan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 15 Oct 2026 07:59 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:58 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/13165 |
