TRUNOJOYO-KP-25999-180341100121-LAPORAN PKL R. Yusuf Satriyana Utama.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (3MB)
Abstract
Ekosistem mangrove sebagaimana ekosistem hutan lainnya memiliki peran sebagai penyerap
dan penyimpan karbon guna pengurangan kadar CO2 di udara. Penyerapan CO2 oleh vegetasi
merupakan proses dalam pengendalian pencemaran udara dalam mengurangi kadar CO2 di udara.
CO2 yang terserap melalui proses fotosintesis digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan
tanaman mangrove. Proses fotosintesis mengabsorpsi gas CO2 dari atmosfer dan kemudian
menyimpannya sebagai materi organik dalam bentuk biomassa tanaman. Banyaknya materi
organik yang tersimpan dalam biomassa mangrove per unit luas dan per unit waktu merupakan
pokok dari produktivitas hutan (Sutaryo, 2009).
Taman Hutan Rakyat (Tahura) merupakan suatu kawasan yang terdapat hutan dengan
vegetasi dominan mangrove. Hutan mangrove sendiri merupakan suatu area yang paling banyak
menyimpan karbon di wilayah tropis. Tahura Ngurah Rai secara administrasi pemerintahan
terletak di Kecamatan Kuta Kabupaten Badung dan Kecamatan Denpasar Selatan Kota Denpasar
Propinsi Bali, sedangkan secara geografis TAHURA Ngurah Rai terletak pada 115° 9` sampai
115° 14` Bujur Timur dan 8° 42` sampai 8° 47` Lintang Selatan dengan luas 1.373,50 Ha (Pratama
et.al, 2019).
Sensor penginderaan jauh mempunyai kemampuan dalam menangkap gelombang yang
dipantulkan oleh vegetasi dan non vegetasi serta mampu membedakan kualitas (jumlah klorofil)
dan vegetasi melalui pemanfaatan nilai indeks vegetasi. Indeks vegetasi dirancang untuk
memperjelas tampilan objek berklorofil (vegetasi) dibandingkan dengan objek-objek yang tidak
berklorofil. Nilai indeks vegetasi dapat memberikan informasi tentang persentase penutupan
vegetasi, biomassa tanaman, fAPAR, estimasi penyerapan karbon dan kapasitas fotosintesis (Ji dan
Peters, 2007). Nilai indeks vegetasi merupakan suatu nilai yang dihasilkan dari persamaan
matematika dari beberapa band penginderaan jauh (citra) yang menghasilkan satu nilai indeks
(As-syakur dan Adnyana, 2009).
Di antara banyak indikator, biomassa di atas permukaa tanah atau Above Ground Biomass
(AGB) dianggap sebagai faktor ekologis yang penting dan indikator pengelolaan habitat dari
berbagai kondisi dan proses lingkungan di ekosistem mangrove. AGB mengacu pada berat kering
bahan organik yang telah diproduksi dan disimpan dalam tumbuh-tumbuhan hidup yang berada di
atas tanah termasuk batang, cabang, kulit kayu, benih, dan dedaunan (The REDD Desk, 2019).
Estimasi AGB telah menerima perhatian selama beberapa dekade terakhir karena meningkatnya
kesadaran akan pemanasan global karena perubahan iklim; dan peran penting biomassa hutan
dalam penyerapan dan pelepasan karbon gas rumah kaca akibat deforestasi (Kumar dan Mutanga,
2017). AGB dapat diperkirakan dengan pengambilan sampel destruktif dimana pohon benar-benar
ditebang dan ditimbang; atau dengan metode non destruktif yang mencakup estimasi berdasarkan
persamaan alometrik yang dikembangkan menggunakan pohon dimensi seperti diameter setinggi
dada (dbh) dan tinggi pohon, atau melalui penginderaan jauh citra (Kumar dan Mutanga, 2017).
Secara khusus, estimasi biomassa berbasis citra satelit model dapat diturunkan dari polarisasi
backscatter radar, band multispektral, dan indeks vegetasi (Castillo et al., 2017). Gambar Synthetic
Aperture Radar (SAR) telah menjadi pilihan populer untuk memperkirakan AGB karena
kemampuan penetrasi awan dan kepekaannya terhadap struktur spasial dan tegakan hutan
biomassa. Penggunaan nilai backscatter dari citra SAR dinilai paling banyak metode yang nyaman
dan paling sederhana. Dalam pendekatan ini, model estimasi biomassa dikembangkan dengan
mengkorelasikan nilai hamburan balik radar, (termasuk turunannya), pada polarisasi yang berbeda
dengan AGB yang diukur di lapangan.
Penggunaan citra Sentinel-1 untuk estimasi AGB baru-baru ini menarik perhatian para
peneliti mencari alternatif untuk data SAR dengan panjang gelombang panjang (misalnya, produk
ALOS PALSAR) yang: dianggap lebih cocok untuk aplikasi hutan karena lebih menembus
daripada yang lebih pendek panjang gelombang SAR seperti Sentinel-1 (Argamosa et al., 2018).
Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Castillo et.al, 2017, nilai hamburan balik yang dihasilkan
oleh gambar SAR Sentinel-1 di Polarisasi VH (transmisi vertikal –penerimaan vertikal) memiliki korelasi yang lebih baik dengan biomassa (R=0,48-0,51) dibandingkan polarisasi VV. Penelitian
ini bertujuan untuk memetakan biomassa atas permukaan tanah hutan mangrove menggunakan
informasi yang berasal dari data SAR Sentinel-1A kombinasi polarisasi (VV dan VH) akuisisi
tanggal 27 Oktober 2021.
| Item Type | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Thesis Type | S1 |
| Creators | Creators NIM R. YUSUF SATRIYANA UTAMA |
| Department | Kelautan |
| Uncontrolled Keywords | PUSAT PENELITIAN LINGKUNGAN HIDUP (PPLH) UNIVERSITAS UDAYANA, DENPASAR |
| Divisions | Fakultas Ilmu Kelautan > S1 - Ilmu Kelautan |
| Additional Information | elib mass import |
| Depositing User | Unnamed user with email library@trunojoyo.ac.id |
| Date Deposited | 15 Oct 2026 07:02 |
| Last Modified | 24 Oct 2026 16:58 |
| URI | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/12876 |
