Wahyu Sufi’a Dewi Sukmawat, WSDS (2026) SELEKSI FENOTIPIK CABAI HASIL PERSILANGAN INTERSPESIFIK BERDASARKAN KETAHANAN TERHADAP PENYAKIT KERITING KUNING, KERAGAAN AGRONOMI, DAN HASIL. S1 thesis, Universitas Trunodjoyo Madura.
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42066-Cover.pdf - Published Version
Download (945kB)
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42066-Abstract.pdf - Published Version
Download (242kB)
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42066-Chapter1.pdf - Published Version
Download (271kB)
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42066-Chapter2.pdf - Accepted Version
Restricted to Registered users only
Download (288kB) | Request a copy
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42066-Chapter3.pdf - Accepted Version
Restricted to Registered users only
Download (568kB) | Request a copy
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42066-Chapter4.pdf - Accepted Version
Download (673kB)
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42066-Conclusion.pdf - Published Version
Download (236kB)
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42066-References.pdf - Published Version
Download (319kB)
TRUNOJOYO-Tugas Akhir-42066-Appendices.pdf - Accepted Version
Restricted to Registered users only
Download (3MB) | Request a copy
Abstract
Penyakit keriting kuning yang berasosiasi dengan Begomovirus dan ditularkan
oleh kutu kebul (Bemisia tabaci) merupakan salah satu kendala utama dalam
budidaya cabai besar (Capsicum annuum) di Indonesia, yang berkontribusi
terhadap fluktuasi produksi nasional dari tahun ke tahun. Penelitian ini bertujuan
mengevaluasi respons ketahanan fenotipik empat genotipe F1 hasil persilangan
interspesifik antara C. annuum dan C. frutescens (G1, G2, G3, dan G4) terhadap
penyakit keriting kuning, sekaligus mengkaji keragaan agronomi dan hasil,
menduga nilai heritabilitas dalam arti luas, serta menganalisis korelasi dan pola
multivariat antarkarakter pada kondisi inokulasi dan non-inokulasi. Penelitian
dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dua faktor
(genotipe dan status inokulasi) dengan tiga ulangan di Screenhouse Agrifarm
Training Center, Malang, pada Agustus 2025–Juni 2026. Hasil penelitian
menunjukkan variasi nyata pola perkembangan penyakit (AUDPC) antargenotipe:
G1I dan G3I mengalami akumulasi penyakit tinggi tanpa pemulihan berarti
sehingga dikategorikan Rentan (intensitas rata-rata 31,82% dan 36,26%),
sedangkan G2I dan G4I menunjukkan pola pemulihan (recovery) fenotipik nyata
hingga intensitas penyakit masing-masing 10,43% dan 4,65% (kategori Tahan).
Nilai AUDPC berkorelasi kuat dengan seluruh karakter vegetatif dan generatif,
dengan korelasi negatif sangat kuat terhadap jumlah buah (r = -0,953). Heritabilitas
karakter vegetatif seperti tinggi tanaman dan jumlah cabang tergolong tinggi,
sedangkan karakter generatif seperti umur bunga lebih dipengaruhi faktor
lingkungan dan tekanan penyakit. Analisis biplot mengonfirmasi pengelompokan
genotipe berdasarkan tingkat ketahanan, dengan G4I dan G2I teridentifikasi
sebagai genotipe unggul yang prospektif untuk dikembangkan lebih lanjut dalam
program pemuliaan cabai tahan Begomovirus di Indonesia.
| Item Type: | Thesis (S1) |
|---|---|
| Subjects: | Q Science > QK Botany S Agriculture > S Agriculture (General) S Agriculture > SB Plant culture |
| Depositing User: | Syahirul Effendy |
| Date Deposited: | 01 Oct 2026 08:02 |
| Last Modified: | 01 Oct 2026 08:02 |
| URI: | https://repository.trunojoyo.ac.id/id/eprint/100 |
